Merpati Bantah Pesawat Buatan China Jelek

Kompas.com - 11/06/2013, 14:19 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airline Rudy Setyopurnomo membantah bahwa pesawat tipe MA-60 yang diproduksi China merupakan pesawat jelek dan tidak memiliki suku cadang yang kini sudah tidak diproduksi lagi.

"Tidak ada anggapan bahwa pesawat China jelek," kata Rudy kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (11/6/2013). Rudy masih enggan menjelaskan lebih lanjut tentang proses pembelian ataupun soal suku cadang dari pesawat yang mengalami kecelakaan di Bandara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi pada Senin (10/6/2013) pagi.

Untuk itu, pihaknya menyerahkan semua proses investigasi kecelakaan pesawat Merpati itu ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan tim Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Saat ini, Rudy berada di Kupang dengan KNKT dan The Dangerous Goods Advisory Council (DGAC), organisasi nirlaba yang mengurusi keselamatan transportasi nasional dan internasional.

"Kami menyerahkan flight data recorder dan cockpit voice recorder ke KNKT," tambahnya. Di sisi lain, Rudy juga mengunjungi penumpang dari pesawat Merpati yang mengalami kecelakaan yang saat ini dirawat di rumah sakit setempat.

Seperti diberitakan, Kementerian Perhubungan menyatakan sudah mengirim tim untuk melakukan investigasi kecelakaan pesawat Merpati MA 60 di Bandara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi pada Senin pagi. Di Indonesia, pesawat buatan China ini sudah tiga kali mengalami kecelakaan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti mengatakan, investigasi akan mencakup sistem operasional, perawatan, hingga ketersediaan suku cadang pesawat tersebut di Indonesia.

"Untuk suku cadang, kami harus mencari tahu apakah memang tidak diproduksi lagi atau ada kemungkinan operator yang tidak mampu beli karena kami tahu keadaan Merpati seperti apa saat ini," ucap Herry.

Saat ini Merpati memiliki 14 pesawat tipe MA-60. Dari jumlah itu, hanya delapan pesawat yang masih beroperasi dan empat yang lain sedang dalam perawatan. Ketika kecelakaan terjadi, lanjut Herry, pesawat dalam kondisi layak terbang dan tidak ada persoalan dengan situasi ataupun kondisi bandara.

Kecelakaan MA-60 paling tragis terjadi pada 7 Mei 2011. Saat itu pesawat PK-MKZ bernomor penerbangan MZ8968 dari bandar udara Sorong kehilangan ketinggian dan jatuh bebas di laut, hanya 500 meter menjelang landasan pacu bandar udara Kaimana, Papua. Kondisi cuaca dalam penerbangan yang menewaskan dua pilot, dua awak kabin, seorang juru teknik penerbangan, serta 21 pemakai jasanya itu diketahui buruk dengan visibilitas sangat terbatas.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X