Kompas.com - 12/06/2013, 16:35 WIB
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar premium sebesar Rp 2.000 dan solar Rp 1.000 menurut beberapa pihak ternyata tidak akan banyak berpengaruh pada sektor properti. Sementara itu, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) justru dinilai akan memberikan efek langsung pada sektor tersebut.

"Listrik merupakan bagian daripada komponen membuat bahan bangunan. Nah, ini pasti ada imbasnya terhadap bahan bangunan, dan juga kepada harga rumah. Ini kita lagi hitung imbasnya, mudah-mudahan tidak besar," ujar Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz seusai pembukaan Musyawarah Nasional IV Apersi di Jakarta, Rabu (12/6/2013).

Menurut Faridz, pemerintah akan memberikan subsidi bagi angkutan umum. Artinya, dari segi angkutan dan distribusi bahan bangunan tidak akan ada kenaikan. Namun, kenaikan TDL berkala akan sangat berpengaruh pada harga rumah. Untuk itu, pihaknya menyiapkan strategi berupa perpanjangan masa cicilan agar masyarakat mampu memiliki rumah sendiri dan tidak menyewa. Pasalnya, komponen gaji masyarakat selama ini tergerus oleh keperluan menyewa rumah.

"Kalau harga rumahnya naik, gajinya tidak naik, artinya kemampuan itu akan menurun. Kita antisipasi dengan perpanjangan masa kreditnya. Jadi, kreditnya misalnya 15 tahun, kita buat panjang menjadi 20 tahun. Akan ada permen susulan, akan kita buat jadi lebih panjang supaya cicilannya tetap terjangkau," ujarnya.

"Besaran angsurannya juga bisa turun. Kalau tahun ini Rp 700.000, nanti kalau dipanjangin bisa hanya Rp 600.000 atau bisa juga sama. Tapi, cicilannya sama yang kita kejar, cuma jangka waktunya lebih panjang. BTN mau karena makin panjang makin senang. Untungnya fix," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Apersi Eddy Ganefo mengatakan, ada dua hal yang perlu dicermati saat ini. Hal pertama masalah BBM, sementara hal kedua persoalan tarif listrik.

"Soal BBM, industri perumahan ini sudah menggunakan BBM non-subsidi, seharusnya berpengaruh meskipun hanya sedikit. Tapi, ada satu hal lagi yang sangat kami takutkan, yaitu kemampuan atau keterjangkauan masyarakat miskin akan semakin jauh karena, dengan kenaikan BBM dan kenaikan tarif listrik, biaya hidup jadi lebih tinggi. Biaya hidup yang lebih tinggi akan menggerus kemampuan mereka untuk membeli rumah," ujar Eddy.

Saat ini, jika Menpera Djan Faridz memberikan gagasan mengenai perpanjangan masa cicilan dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga BBM, Eddy mengatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan strategi berupa pemberian 1.000 rumah gratis untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.