Nasib Rupiah di Tangan BBM

Kompas.com - 13/06/2013, 10:59 WIB
EditorErlangga Djumena

Cadangan devisa Indonesia pada akhir 2012 ditutup sebesar 112,7 miliar dollar AS. Namun, dalam waktu tiga bulan, cadangan devisa kita sudah melorot ke tingkat 104,8 miliar dollar AS. Ini membuat posisi rasio utang luar negeri jangka pendek terhadap cadangan devisa Indonesia naik menjadi 50,6 persen—memburuk dari kuartal sebelumnya, yaitu 48,5 persen.

Artinya, jika terjadi kepanikan di pasar dan seluruh utang luar negeri jangka pendek ditarik oleh investor, cadangan devisa kita akan turun 50,6 persen atau hanya tertinggal sekitar 52 miliar dollar. Dengan jumlah ini kita hanya bisa membiayai impor dan utang luar negeri pemerintah kurang dari tiga bulan. Pemerintah dapat mengatakan apa pun mengenai ekonomi Indonesia, tetapi angka-angka ini tidak bisa berbohong bahwa kondisi keseimbangan eksternal Indonesia memburuk.

Dengan semua kecenderungan ini, cepat atau lambat investor akan mencabut dananya. Bila ini terjadi secara masif dan cepat seperti yang terjadi pada Selasa lalu, ekonomi Indonesia yang telah dibangun secara susah payah sejak 2001 bisa kembali tersungkur. Bagi orang kebanyakan, prediksi ini barangkali dianggap terlalu pesimistis atau mengada- ada. Namun, apa yang terjadi pada seminggu terakhir semestinya lebih dari cukup dari sekadar peringatan.

Dan semua masalah ini bersumber dari BBM. Sejak 2008 harga BBM tidak dinaikkan meskipun harga minyak mentah mengalami lonjakan. Harga BBM murah ikut menyumbang pada membengkaknya konsumsi BBM nasional, yang sebagian besar dipenuhi dari impor. Akibatnya, pada kuartal I-2013 kita mengimpor minyak 10,8 miliar dollar AS (naik dari 9,9 miliar dollar AS pada kuartal I-2012) dan menciptakan defisit neraca minyak sebesar 6,5 miliar dollar AS.

Investor semakin galau ketika beberapa partai politik/politisi justru menggunakan isu BBM sebagai panggung untuk kepentingan elektoral. Para politisi ini yakin APBN tidak akan jebol bila harga BBM tidak dinaikkan. Mereka berpegang pada argumen bahwa kenaikan harga BBM akan menyengsarakan rakyat karena harga-harga akan menyusul naik. Kenyataannya, kebijakan subsidi BBM itu sendiri secara inheren keliru dan perlu dikoreksi. Jadi, persoalannya bukan lagi hanya soal cukup atau tidaknya uang pemerintah untuk membayar subsidi. Selain itu, memang tidak ada alternatif solusi lain yang dapat mengatasi krisis APBN ini dengan cepat dan tuntas kecuali menaikkan harga BBM.

DENNI PUSPA PURBASARI Pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

 

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X