Kompas.com - 14/06/2013, 10:23 WIB
EditorErlangga Djumena

AS menggunakannya untuk mengatasi krisis keuangan global 2008-2009, diikuti bank sentral Eropa untuk mengatasi krisis ekonomi Uni Eropa. Pemerintahan PM Abe di Jepang, yang kini berkuasa, menjalankan kembali QE seraya melakukan ekspansi fiskal dan reformasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perekonomiannya.

QE memompakan likuiditas melalui pembelian bank sentral atas segala jenis surat berharga baik milik negara maupun lembaga negara serta saham dan surat utang swasta yang memiliki peringkat tinggi. Penurunan bunga diharapkan merangsang kembali kegiatan ekonomi melalui peningkatan investasi dan konsumsi swasta, penghentian proses deflasi, dan pengurangan beban pembayaran utang oleh pemerintah di negara itu.

Rendahnya suku bunga akibat QE di negara maju telah meningkatkan perbedaan tingkat suku bunga mereka dengan negara berkembang seperti Indonesia. Dewasa ini, tingkat suku bunga acuan BI 5,75 persen dibandingkan 0,25 persen di negara-negara maju. Pemodal asing menguasai sekitar sepertiga volume SUN, SBI, dan efek yang diperdagangkan di bursa.

Pemasukan modal jangka pendek merupakan sumber likuiditas penting bagi pasar uang dan modal yang sempit. Pemasukan modal asing untuk membeli saham, SUN, serta SBI telah meningkatkan harga surat-surat berharga ini dan menurunkan tingkat suku bunga. Pada gilirannya, kenaikan harga sekuritas meningkatkan modal dan nilai kekayaan pemegangnya, sekaligus menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan.

Sebaliknya, aliran modal ke luar negeri menurunkan harga surat-surat berharga sehingga menyebabkan malapetaka bagi pemegangnya. Kecukupan modal bank dan NPL jadi terganggu oleh penurunan harga efek-efek ini. Kolapsnya industri reksa dana yang terjadi berkali-kali sejak 1980-an berkaitan dengan gejolak harga efek akibat aliran modal asing jangka pendek.

Karena dua hal, Indonesia jadi negara tujuan modal asing yang menarik sejak krisis 1997. Pertama, karena pengendalian ekonomi makro yang baik tetap berperan pada resep IMF: menjalankan kurs devisa mengambang yang ditopang disiplin fiskal yang membatasi rasio defisit APBN maksimum 3 persen dari PDB dan rasio utang negara 60 persen dari PDB. Kedua, ekonomi dan ekspor tumbuh pesat karena boom komoditas primer hasil tambang, pertanian, dan hasil laut.

Pada gilirannya, boom ini bermuara pada tingginya laju ekonomi China dan India sebesar 9-10 persen selama 30 tahun lebih terus-menerus bagi China dan sejak 1990-an bagi India. Pertumbuhan pesat ini perlu segala jenis bahan baku. Sementara, rakyatnya yang kian makmur menuntut makanan yang kian berkualitas. Indonesia juga mengekspor tenaga kerja kasar ke seluruh dunia karena terbatasnya pekerjaan di negeri sendiri. Para pekerja ini mengirimkan uang ke kampung halaman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Besarnya penerimaan devisa dari ekspor komoditas primer, remittances dan pemasukan modal jangka pendek, meningkatkan cadangan luar negeri BI. Berbeda dengan China dan Jepang yang melemahkan mata uangnya, BI justru menggunakan sebagian persediaan devisa untuk memperkuat rupiah. Penguatan kurs rupiah membuat industri manufaktur dan pertanian tak mampu bersaing dengan impor.

Persaingan jadi kian berat dengan China karena perjanjian perdagangan bebas (CAFTA) telah meniadakan atau mengurangi tarif bea masuk impor barang dari China. China dengan sengaja melemahkan kurs mata uangnya untuk membuat harga barang ekspornya murah. Barang impor China jadi kian murah lagi karena BI membuat rupiah menguat. Secara regional, petani dan perajin serta produsen industri manufaktur di Jawa jadi korban utama kebijakan kurs dan sistem perdagangan yang kurang adil ini.

Kurs rupiah yang menguat sekaligus memberikan insentif pada produksi non-traded goods and services (NTB), yakni barang dan jasa yang hanya dikonsumsi di pasar lokal di mana ia diproduksi. Karena tak diekspor dan diimpor, komoditas seperti ini menambah inefisiensi perekonomian nasional. Contoh NTB adalah jasa-jasa pemerintahan, konstruksi, dan real estat. Terlihat peningkatan kembali pembangunan perumahan, pusat perbelanjaan (mal), pertokoan, dan lapangan golf di seluruh pelosok Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    25th

    Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X