Kompas.com - 20/06/2013, 07:06 WIB
Papan keterangan stok bahan bakar jenis premium yang habis terpasang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) Jalan Palmerah Barat, Jakarta, Kamis (2/5/2013). Menjelang pengumuman pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak, ketersediaan stok bahan bakar menjadi penting agar tidak mengganggu perekonomian. 

KOMPAS/RADITYA HELABUMIPapan keterangan stok bahan bakar jenis premium yang habis terpasang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) Jalan Palmerah Barat, Jakarta, Kamis (2/5/2013). Menjelang pengumuman pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak, ketersediaan stok bahan bakar menjadi penting agar tidak mengganggu perekonomian.
EditorErlangga Djumena
KOMPAS.com  -”Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kami tidak meminta uang,” kata seorang mahasiswa di atas bus kota PPD 504 jurusan Grogol-Pulogadung. ”Kami hanya mau berbagi informasi soal harga BBM,” ujarnya sambil berdiri di depan penumpang yang kelihatan bingung melihat ulah mahasiswa itu.

"Biaya produksi BBM premium sekitar Rp 10.000 per liter. Dijual saat ini Rp 4.500 per liter. Itu artinya, pemerintah memberikan subsidi sekitar Rp 5.000 per liter,” ujarnya berhenti sejenak.

”Jika Bapak dan Ibu punya motor dan diisi 3 liter premium, artinya Bapak dan Ibu hanya mendapatkan subsidi dari negara Rp 15.000,” kata mahasiswa berjaket almamater yang memperkenalkan dirinya bernama Ahmad Rachman. Ia didampingi dua rekannya yang juga berdiri di depan para penumpang.

”Namun, bagi pemilik mobil, kapasitas tangkinya 35 liter. Berarti mereka mendapatkan subsidi dari negara minimal Rp 150.000 sekali mengisi bensin,” ujarnya sambil menatap mata penumpang yang mulai tertarik pada orasinya.

”Bayangkan jika dalam sebulan empat kali mengisi bensin, berarti pemilik mobil mendapatkan subsidi Rp 600.000. Setahun mereka dapat subsidi dari negara paling sedikit Rp 7,2 juta!” ujarnya setengah berteriak yang mengagetkan penumpang.

”Tapi, Bapak dan Ibu yang memakai sepeda motor hanya mendapatkan subsidi Rp 60.000 sebulan atau Rp 720.000 setahun. Inilah ketidakadilan di negeri kita,” ujarnya sambil terus berorasi meyakinkan penumpang. Entah paham atau tidak, mahasiswa itu terus berorasi soal ketidakadilan dan kesenjangan yang terjadi di negeri ini.

Sejumlah sikap

Menanggapi rencana kenaikan harga BBM, ulah mahasiswa dan masyarakat memang sangat beragam. Di sejumlah kota terjadi unjuk rasa, dan beberapa cenderung anarkistis.

”Kami terpaksa berbicara di atas bus kota karena kami berbeda pendapat dengan teman- teman lain,” kata Ahmad memberikan alasan.

Adu argumentasi dengan teman sekampusnya di kawasan Grogol, Jakarta, sudah dilakukan, tetapi tak mencapai titik temu. Karena itulah dia melakukan aksi orasi di atas bus kota untuk mengedukasi masyarakat. Ia menyatakan tak mendukung pemerintah yang sangat mengutamakan pencitraan, tetapi tak peduli pada nasib rakyat kecil walaupun pemerintah akan menyalurkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) Rp 150.000 sebulan selama empat bulan.

Dosen Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia, Ida Ruwaida Noor, juga melihat penyaluran BLSM untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM harus diwaspadai penerapannya karena berpotensi menimbulkan gesekan di masyarakat, apalagi jika data penerimanya tak akurat.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.