Kompas.com - 21/06/2013, 08:24 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani

WASHINGTON, KOMPAS.com — Pasar finansial global serempak bergejolak, Rabu (19/6/2013). Perasaan cemas kembali menghantui raut wajah investor global. Pemicunya, hari itu orang nomor satu Bank Sentral Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pernyataannya.

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Ben Bernanke menegaskan, stimulus bakal berhenti di pertengahan tahun 2014. Lebih mengejutkan, Bernanke menyatakan, sebagai tahap awal, stimulus bakal mulai berkurang pada akhir 2013 ini.

Bernanke melontarkan pernyataan itu pasca-menghadiri pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung selama dua hari. "Kami melihat bahwa pengurangan stimulus adalah sesuatu yang tepat untuk dilakukan. Jika data ekonomi terus membaik, kami akan memberhentikan stimulus pada pertengahan tahun depan," ujar Bernanke.

Sepekan belakangan, investor seantero dunia dinaungi rasa waswas menunggu hasil rapat FOMC tentang kebijakan stimulus AS. Maklum, stimulus AS merupakan suntikan dana terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah finansial AS ataupun dunia.

Nah, pernyataan Bernanke ini ibarat lonceng pengingat bahwa tiada lagi asupan dana ke pasar finansial global. Dalam program stimulus alias quantitative easing (EQ), bank sentral AS menggelontorkan dana 85 miliar dollar AS saban bulan.

Duit sebanyak itu dipakai untuk membeli surat utang berbasis kredit properti sebesar 40 miliar dollar AS dan surat utang pemerintah sebanyak 45 miliar dollar AS. Tahun ini, 2013, merupakan program tahap ketiga stimulus.

Bernanke menegaskan, rencana pemberhentian stimulus bakal dilakukan dengan mencermati perkembangan sejumlah indikator ekonomi. Dua indikator yang bakal menentukan kebijakan The Fed soal stimulus adalah angka pengangguran dan inflasi.

Potensi stimulus lanjutan

Tahun ini, The Fed memasang target bahwa inflasi AS bisa mencapai 2 persen. Hingga akhir Mei 2013, inflasi AS masih berada di angka 1,4 persen.

Bernanke optimistis bisa mencapai target yang dipatok. "Kami menilai bahwa risiko ekonomi telah berkurang. Pasar tenaga kerja juga jauh membaik dibanding tahun lalu," imbuhnya.

Hitungan Bernanke, angka penyerapan tenaga kerja akan terus tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Dia meyakini, angka pengangguran AS alias jobless rate bisa terus turun ke level 7 persen.

Kini, pengangguran di Negeri Paman Sam bertengger di level 7,6 persen. "Tapi, jika target inflasi dan penganguran tidak tercapai, ada kemungkinan stimulus berlanjut. Bahkan, bisa jadi jumlah pembelian surat utang di pasar ditingkatkan," ujarnya.

Sejak memangkas suku bunga acuan (Fed Rate) ke level rendah pada akhir 2008, bank sentral AS itu telah menghabiskan dana sekitar 3,3 triliun dollar AS untuk program stimulus. Agenda The Fed yang ingin dicapai lewat stimulus adalah menekan besaran yield obligasi pemerintah dan menggairahkan pasar tenaga kerja. (Dessy Rosalina)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.