Kompas.com - 24/06/2013, 08:00 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
EditorErlangga Djumena

Maka kata-kata saling menakuti akan diedarkan neophobias dalam komunitas itu seperti "jangan jadikan anak-anak kita kelinci percobaan", "rakyat besok akan mati", "perlawanan yang lebih besar akan datang" dan seribu ancaman lainnya yang mengerikan bagi orang lain.

Sebagian change leader beranggapan, kelompok ini pantas diabaikan karena jumlahnya tidak signifikan. Tetapi berbagai riset belakangan menemukan neophobia adalah "penyakit" yang membuat sebuah bangsa menjalani perubahan tidak dalam batin yang bahagia. Rasa takut dan cemas bisa menutup pintu rapat-rapat dan memutarbalikkan kemesraan berkomunitas.

Bahkan dalam skop makro bisa menimbulkan gerakan kekuatan rakyat (people's power) yang masif kalau rakyat mempercayainya. Bila melibatkan kalangan akademik, ia dapat melumpuhkan kesadaran ilmiah yang didasarkan prinsip keterbukaan dan fakta-fakta ilmiah. Bila ilmuwan sudah dilanda neophobia, maka masyarakatnya akan dilanda kebingungan dan bisa menguntungkan politisi yang memiliki conflict of interest.

Karena itu timbul kesadaran baru dalam Change Management bahwa neophobia adalah semacam "penyakit " perubahan, dan obatnya adalah memberikan terapi (self therapy). Masalahnya, mereka tdak hanya anti terhadap satu jenis perubahan, melainkan terhadap segala jenis pembaruan.

Sekalipun dilibatkan, mereka punya kecenderungan arogansi atau denying yang begitu kuat dalam untaian sinisme yang dinyatakan terbuka maupun terselubunb. Dalam beberapa hal, karakter kelompok ini mirip dengan kelompok losers (pecundang) yang pernah dibahas Denis Waitley dalam Psychology of Winning.

Jadi kalau perubahan ingin menghasilkan karya yang nyata, batin-batin yang terluka itu jelas harus diberikan ruang terapi yang memadai, atau berikanlah harapan yang dibuktikan dalam kemenangan-kemenangan jangka pendek yang siginifikan seperti yang dilakukan di Garuda Indonesia atau di beberapa organisasi yang kemajuannya jelas belakangan ini.

Kita tak bisa sekedar berubah untuk perubahan, tetapi perlu membangun budaya adaptif yang mengantarkan bangsa ini ke hadapan peradapan baru yang lebih batiniah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.