Tekanan Terhadap Rupiah Bakal Berlanjut

Kompas.com - 25/06/2013, 08:15 WIB
Layar televisi yang menunjukkan kurs mata uang di Bank BNI Jakarta, Selasa (28/5/2013). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia, rupiah ditutup Rp 9.810 per dollar Amerika atau melemah dibanding sehari sebelumnya Rp 9.792.
KOMPAS/HERU SRI KUMOROLayar televisi yang menunjukkan kurs mata uang di Bank BNI Jakarta, Selasa (28/5/2013). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia, rupiah ditutup Rp 9.810 per dollar Amerika atau melemah dibanding sehari sebelumnya Rp 9.792.
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com -Menteri Keuangan M Chatib Basri, Senin (24/6/2013) di Jakarta, mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Pemerintah dan Bank Indonesia serta pemangku kepentingan lainnya akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan sehingga masyarakat tidak perlu panik.

Tekanan terhadap rupiah, menurut Chatib, juga terjadi pada pasar uang secara umum, baik di Indonesia maupun di negara lain. Hal itu disebabkan The Fed, bank sentral Amerika Serikat, menarik likuiditas dengan mengurangi quantitative easing yang berdampak di seluruh dunia.

Sejak minggu lalu, kata Chatib, forum pemerintah dan BI sudah berkoordinasi. Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan bertemu membuat persiapan.

”Tentu kalau berhubungan dengan finansial, saya enggak bisa bilang langkah-langkahnya apa saja. Karena, kalau dikasih tahu langkahnya, besok orang nunggu di pasar. Jadi yang bisa saya sampaikan adalah kita sudah siapkan langkahnya. Namun, memang tekanan pada rupiah di pasar uang masih akan terjadi. Jadi jangan terlalu panik,” kata Chatib.

Beberapa langkah antisipasi, ujar Chatib, sudah mulai dijalankan. Meski demikian, jangan berharap tiba-tiba rupiah menguat. Alasannya, pengetatan likuiditas global sebagai faktor penyebab masih akan terjadi sampai beberapa waktu ke depan.

Kenaikan harga eceran bahan bakar minyak bersubsidi, Chatib menambahkan, dipastikan memperbaiki neraca perdagangan. Namun, hal itu tidak bisa langsung memperkuat rupiah karena persoalannya akan terjadi pada neraca modal akibat pengetatan likuiditas global.

”Kalau modal yang keluar di neraca modal lebih besar daripada yang masuk di neraca perdagangan, neraca pembayaran defisit. Ini menyebabkan rupiah tertekan,” ujarnya.

Berdasarkan kurs referensi (Jisdor) Bank Indonesia, nilai rupiah, Senin, menguat 29 poin ke level Rp 9.931 per dollar AS dari posisi pekan lalu Rp 9.960 per dollar AS. Di pasar spot, rupiah juga menguat tipis 2 poin pada Rp 9.923 per dollar AS dari posisi penutupan pekan lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, pelemahan terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks terkoreksi 86 poin (1,9 persen) ke level 4.429 setelah sempat bergerak pada 4.429-4.561. Dari total transaksi, investor asing melakukan jual bersih Rp 681,1 miliar.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah naik tipis, tetapi masih dalam tren pelemahan. Ini terkait penguatan dollar AS secara global seiring dengan rencana pengurangan stimulus oleh Bank Sentral AS.

”Belum lagi imbas pelemahan yen Jepang dan yuan China yang dipicu rilis awal data manufaktur China yang melambat dan kenaikan tajam tingkat suku bunga antarbank di Shanghai yang memicu krisis likuiditas perbankan,” kata Reza, Senin (24/6/2013) di Jakarta. (BEN/LAS)

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X