Efek Menyakitkan Naiknya harga BBM Bersubsidi

Kompas.com - 26/06/2013, 17:04 WIB
EditorErlangga Djumena

Kalau sudah begini, pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen bisa terancam. Sebab, konsumsi rumahtangga masih menjadi andalan, selain investasi, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kita tahun 2013.

Kondisi itu diperparah kinerja neraca perdagangan kita yang masih relatif lemah. Ekspor dan impor akan tumbuh pada tingkat yang relatif rendah. Terbukti, April lalu, nilai ekspor Indonesia turun 2,8 persen menjadi 14,69 miliar dollar AS ketimbang Maret yang mencapai 15,02 miliar dollar AS.

Walhasil, rapor neraca perdagangan kita yang sempat biru pada bulan Maret kembali memerah pada April. Neraca dagang kita selama April lalu defisit 1,62 miliar dollar AS.

Selama Januari hingga April 2013, rapor neraca dagang kita juga merah lantaran mengalami defisit sebesar  1,85 miliar dollar AS. Gara-garanya, nilai ekspor Indonesia dalam empat bulan pertama tahun ini hanya 60,11 miliar dollar AS, sementara impor mencapai 61,96 miliar dollar AS. Dan, bukan tidak mungkin defisit neraca dagang akan berlangsung sepanjang tahun.

Kalau itu terjadi, maka mengulang kejadian tahun lalu. Pada 2012, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 1,65 miliar dollar AS, yang merupakan kejadian pertama kali sejak defi sit tahun 1961 silam.

Terlebih, kenaikan harga BBM bersubsidi ternyata tidak bisa mengerem konsumsi premium dan solar. Lah, buktinya, pemerintah menambah kuota BBM tahun ini dari 46 juta kiloliter (kl) menjadi 48 juta kl. Impor BBM sudah pasti meningkat yang bisa membuat neraca perdagangan defisit lagi.

Kinerja ekspor yang terus keok melawan impor tentu akan menyeret turun pertumbuhan ekonomi tahun ini. Makanya, pemerintah mengoreksi asumsi pertumbuhan menjadi hanya 6,3 persen, dari sebelumnya sebesar 6,8 persen. Ekonomi pada kuartal pertama yang hanya tumbuh 6,02 persen juga menjadi pertimbangan pemerintah memangkas target pertumbuhan ekonomi di tahun 2013.

Namun, target pemerintah terbilang ambisius. Sebab, Destri memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi tahun ini mentok di angka 6 persen. Memang, kenaikan harga BBM awalnya memang akan menyakitkan. Cuma, untuk jangka menengah dan panjang, kebijakan tersebut akan berdampak bagus. “Ke depan pemerintah bisa mengalokasikan dana yang tadinya untuk subsidi BBM ke sektor-sektor lain,” imbuhnya.

Ya, semoga saja begitu.
(SS. Kurniawan, Francisca Bertha Vistika, Asep Munazat Zatnika)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    Sumber
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Ternyata Indonesia Punya 'Saham' di IMF, Berapa Persen?

    Ternyata Indonesia Punya "Saham" di IMF, Berapa Persen?

    Whats New
    Pendaratan Pesawat Dialihkan dari Juanda ke Ngurah Rai, Ini Penjelasan AP I

    Pendaratan Pesawat Dialihkan dari Juanda ke Ngurah Rai, Ini Penjelasan AP I

    Whats New
    MLFF Bakal Gantikan E-Toll,  Simak Cara Bayar Tol dari Waktu ke Waktu

    MLFF Bakal Gantikan E-Toll, Simak Cara Bayar Tol dari Waktu ke Waktu

    Whats New
    Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Tapanuli Tengah, Kementan Optimalkan Lahan Rawa

    Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Tapanuli Tengah, Kementan Optimalkan Lahan Rawa

    Whats New
    Beras dan Cabai Naik, Simak Harga Pangan Hari ini

    Beras dan Cabai Naik, Simak Harga Pangan Hari ini

    Spend Smart
    Antisipasi Lonjakan Harga Pangan dan Energi, Jokowi Fokus Cegah Kenaikan Harga Minyak Goreng

    Antisipasi Lonjakan Harga Pangan dan Energi, Jokowi Fokus Cegah Kenaikan Harga Minyak Goreng

    Whats New
    Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak via Online dengan KTP

    Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak via Online dengan KTP

    Whats New
    Raup Rp 1,47 Triliun, Laba Antam Melonjak 132 Persen pada Kuartal I 2022

    Raup Rp 1,47 Triliun, Laba Antam Melonjak 132 Persen pada Kuartal I 2022

    Whats New
    Habis Resign atau di-PHK? Ini Cara Pindah BPJS Kesehatan ke Mandiri

    Habis Resign atau di-PHK? Ini Cara Pindah BPJS Kesehatan ke Mandiri

    Work Smart
    Apa Perbedaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan?

    Apa Perbedaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan?

    Whats New
    Ini Jurus Sri Mulyani Keluarkan Indonesia dari 'Middle Income Trap'

    Ini Jurus Sri Mulyani Keluarkan Indonesia dari "Middle Income Trap"

    Whats New
    Bantah Pembangunan IKN Minim Pendanaan, Luhut: UEA Siapkan Investasi 20 Miliar Dollar AS

    Bantah Pembangunan IKN Minim Pendanaan, Luhut: UEA Siapkan Investasi 20 Miliar Dollar AS

    Whats New
    Monitoring Karantina Sapi di Cilegon, SYL: PMK Ada, tetapi Bisa Disembuhkan

    Monitoring Karantina Sapi di Cilegon, SYL: PMK Ada, tetapi Bisa Disembuhkan

    Whats New
    Simak Denda BPJS Kesehatan jika Telat Bayar Iuran dan Cara Mengeceknya

    Simak Denda BPJS Kesehatan jika Telat Bayar Iuran dan Cara Mengeceknya

    Spend Smart
    Pandemi Covid-19 Memasuki Fase Endemi, Industri Pernikahan Kembali Menggeliat

    Pandemi Covid-19 Memasuki Fase Endemi, Industri Pernikahan Kembali Menggeliat

    Whats New
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.