MEDAN, KOMPAS.com -
Ketua Third APEC Senior Officials Meeting (SOM III) and Related Meetings Indonesia, Yuri Octavian Thamrin, menegaskan 19 usulan Indonesia diterima peserta pertemuan tingkat pejabat senior itu dan didukung 20 ekonom APEC lainnya.

Usulan Indonesia itu disampaikan dalam 68 pertemuan SOM III di Medan, 22 Juni-6 Juli 2013 yang dihadiri hampir 3.000 orang dan dinilai sukses.

"Kita bangga karena selain menyukseskan pertemuan, juga berhasil memimpin rapat dimana usulan-usulan diterima anggota APEC," katanya di Medan, Sabtu (6/7/2013).

Indonesia kemudian akan segera mengumpulkan konsep-konsep ini secara lebih detail untuk diedarkan kepada ekonom APEC sehingga pada Agustus nanti bisa dibawa ke KTT APEC di Bali Oktober mendatang.

19 usulan Indonesia itu diantaranya kesepakatan memperkuat atau memberdayakan usaha kecil dan menengah, memberdayakan pengusaha wanita, pemberdayaan petani yang berkaitan dengan ketahanan pangan, penguatan sektor pembiayaan, kesehatan dimana di dalamnya obat tradisional, pendidikan, tanggap darurat, dan konektivitas.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri ini memaparkan, meski ada pernyataan yang menyebutkan APEC belum merakyat, tetapi keputusan-keputusannya semakin menyentuh kepentingan rakyat dengan konteks pemulihan perekonomian.

Indonesia khususnya dalam SOM III di Medan sudah berhasil menggiring ekonom APEC untuk membicarakan dan memutuskan hal-hal nyata dalam meningkatkan perekonomian dengan memerhatikan kondisi UKM, negara berkembang dan belum berkembang.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo, mengatakan, liberalisasi APEC harus jalan terus karena telah mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tetapi anggota APEC menyadari bahwa liberalisasi itu harus dilakukan dengan menekan kesenjangan antara negara maju dengan negara berkembang dan yang sedang berkembang mengingat APEC sendiri terdiri dari negara dengan tingkat perekonomian berbeda.

"Bukan hanya mempertimbangkan negara maju, berkembang dan sedang berkembang, tetapi juga antara pengusaha besar, menegah dan kecil," katanya.