Rupiah Melemah Lagi, BI Diminta Stabilkan Nilai Tukar

Kompas.com - 17/07/2013, 08:17 WIB
Imitasi berbagai macam valuta asing termasuk Rupiah dan Dollar Amerika Serikat menghiasi tempat penukaran valuta asing PT. D8 Valasindo di Jakarta Selatan, Senin (15/4/2013).

KOMPAS/PRIYOMBODOImitasi berbagai macam valuta asing termasuk Rupiah dan Dollar Amerika Serikat menghiasi tempat penukaran valuta asing PT. D8 Valasindo di Jakarta Selatan, Senin (15/4/2013).
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah kalangan pengusaha mengharapkan Bank Indonesia dapat menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Di satu sisi, eksportir bergembira dengan pelemahan rupiah, sebaliknya importir keberatan. Pasar diminta tidak panik.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) berharap pemerintah bisa mengendalikan nilai rupiah agar tidak terus melemah. Pasalnya, melemahnya nilai rupiah memberatkan mereka mengimpor bahan baku bagi pangan olahan atau produk dalam kemasan.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman, di Jakarta, Selasa (16/7/2013), mengemukakan, sebagian besar bahan baku produk pangan olahan merupakan produk impor. Sebagai contoh adalah bahan tambahan pangan, gandum, dan gula diimpor sebanyak 60 persen, konsentrat jus buah 60 persen, dan bawang putih 90 persen.

”Oleh karena itu, melemahnya nilai rupiah tentu saja akan sangat memberatkan sejumlah pengusaha. Hal itu pun akan berpengaruh pada kenaikan harga sejumlah produk pangan olahan,” ujar Adhi.

Sulit memastikan besaran kenaikan harga produk pangan olahan apabila nilai rupiah terus melemah. Pasalnya, kenaikan harga produk pangan olahan sangat bergantung pada kebijakan setiap perusahaan dan formula bahan baku yang digunakan.

Adhi memastikan, saat ini, melemahnya nilai rupiah belum berpengaruh pada harga sejumlah produk pangan olahan. Hal itu karena sejumlah pengusaha masih memiliki stok cadangan bahan baku untuk produk pangan olahan hingga sebulan ke depan. Selain itu, umumnya, mendekati Idul Fitri, penyesuaian harga tidak mungkin dilakukan.

”Namun, kalau nilai rupiah terus melemah, saya perkirakan sebulan ke depan baru akan terasa dampaknya terhadap kenaikan harga produk pangan olahan,” ujar Adhi.

Adhi mendukung upaya BI dalam mengendalikan nilai rupiah. ”Kami sangat mendukung upaya pemerintah dan BI dalam mengendalikan stabilitas nilai rupiah,” kata Adhi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia Achmad Ridwan Tento mengatakan, melemahnya rupiah belum terasa pada importir. ”Saat ini, banyak sekali barang impor masuk. Namun, barang-barang itu dipesan 2-3 bulan lalu, masih memakai kurs Rp 9.600-Rp 9.700 per dollar AS,” kata Ridwan.

Tingginya barang impor saat ini sudah menjadi pola tahunan. Setiap kali menjelang Lebaran, impor akan tinggi sekali. Kondisi ini baru berhenti saat empat hari menjelang Lebaran.

Mengenai kemungkinan importir menurunkan barang impor, Ridwan mengatakan, sangat tergantung dari kondisi setelah Lebaran. ”Jika permintaan masyarakat masih tinggi, mau tidak mau impor tetap akan tinggi. Tetapi, saya perkirakan, permintaan akan merosot jauh,” ujar Ridwan.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemangku Kepentingan Kelapa Sawit Minta Pemerintah Evaluasi Larangan Ekspor CPO

Pemangku Kepentingan Kelapa Sawit Minta Pemerintah Evaluasi Larangan Ekspor CPO

Whats New
India Larang Ekspor Gandum, Ekonom : Bisa Bikin Harga Daging dan Telur Naik

India Larang Ekspor Gandum, Ekonom : Bisa Bikin Harga Daging dan Telur Naik

Whats New
Harga Minyak Goreng Masih Mahal, Simak Minimarket hingga Supermarket yang Gelar Promo

Harga Minyak Goreng Masih Mahal, Simak Minimarket hingga Supermarket yang Gelar Promo

Spend Smart
RI Jadi Magnet Kripto Baru, 15 Negara Rembuk di Bali

RI Jadi Magnet Kripto Baru, 15 Negara Rembuk di Bali

Whats New
Sisa 45 Hari, Harta yang Diungkap dalam PPS Tembus 86,55 Triliun

Sisa 45 Hari, Harta yang Diungkap dalam PPS Tembus 86,55 Triliun

Whats New
Nilai Limit di Bawah Rp 300 Juta, Simak Daftar Lelang Rumah di Bandung

Nilai Limit di Bawah Rp 300 Juta, Simak Daftar Lelang Rumah di Bandung

Whats New
Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, serta Biaya-biaya Lainnya

Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, serta Biaya-biaya Lainnya

Whats New
Penuhi Pasokan Dalam Negeri, India Larang Ekspor Gandum

Penuhi Pasokan Dalam Negeri, India Larang Ekspor Gandum

Whats New
Kilang Balikpapan yang Kebakaran Masih Diperbaiki, Pertamina Pastikan Suplai BBM Tidak Terganggu

Kilang Balikpapan yang Kebakaran Masih Diperbaiki, Pertamina Pastikan Suplai BBM Tidak Terganggu

Whats New
Digugat Rp 322 Miliar gara-gara Tabungan Emas, PT Pegadaian Buka Suara

Digugat Rp 322 Miliar gara-gara Tabungan Emas, PT Pegadaian Buka Suara

Whats New
Pegadaian Digugat Rp 322 Miliar Gara-gara Tabungan Emas

Pegadaian Digugat Rp 322 Miliar Gara-gara Tabungan Emas

Whats New
Cara Membuat Sertifikat Tanah, Beserta Syarat dan Biayanya

Cara Membuat Sertifikat Tanah, Beserta Syarat dan Biayanya

Spend Smart
Long Weekend, KAI Catat 67.000 Penumpang Berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Long Weekend, KAI Catat 67.000 Penumpang Berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Whats New
Cek Besaran Biaya dan Limit Transfer Bank DKI di ATM

Cek Besaran Biaya dan Limit Transfer Bank DKI di ATM

Spend Smart
Awal Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 967.000 per Gram

Awal Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 967.000 per Gram

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.