Kompas.com - 27/07/2013, 09:12 WIB
Anita Matahari KOMPAS/DAHLIA IRAWATIAnita Matahari
|
EditorErlangga Djumena

Saat PT Papua Diving masuk, mereka berbuat sebaliknya. Mereka menyewa ahli biologi kelautan asal Inggris untuk membuat peternakan koral (coral farm). Di lahan seluas 100 meter, peternakan koral itu dibangun. Secara perlahan, terumbu karang di sana mulai hidup kembali. Karang dengan ikan-ikannya yang awalnya punah, kini kembali melimpah.

Awalnya populasi ikan di Raja Ampat dianggap kalah dari Papua Niugini dengan 279 jenis ikan. Namun, tahun 2000 saat diteliti oleh ahli ikan asal berbagai negara, ditemukan bahwa jumlah populasi ikan di Raja Ampat sekitar 287 jenis. Tahun 2012, jumlahnya terus bertambah menjadi 391 jenis.

PT Papua Diving saat ini menyewa 3,5 hektar (ha) lahan di Raja Ampat. Ia membuat resor-resor etnik, sebagai salah satu paket wisata yang ditawarkan. Satu paket wisata menikmati wisata bahari atau gunung, antara 1 minggu hingga 3 minggu. Harga jual paket wisata tersebut antara 1.200-2.300 euro atau sekitar Rp 35 juta per orang.

Meski terbilang mahal jika dinilai dengan rupiah, tetapi banyak juga turis asal Amerika dan Eropa mengambil paket-paket wisata yang ditawarkan. Dalam sebulan, rata-rata ada 100-an wisatawan menikmati keelokan Papua melalui jasa PT Papua Diving.

”Namun tujuan kami bukan berorientasi profit. Kami ingin mengajak orang Papua turut merasakan manfaat dari alamnya,” ujar Anita. Sebanyak 75 dari 100 karyawan PT Papua Diving adalah orang lokal Papua. Mereka dilatih bekerja, dilatih manajemen, dilatih beragam bahasa, hingga mahir.

”Ada seorang pemandu selam kami yang hanya lulusan SMA, kini sudah mahir empat bahasa, dan pandai dalam hal manajemen. Ia kini menjadi manajer selam, dan saya berencana akan membagikan saham perusahaan kepadanya,” ujar Anita.

Anita tidak segan-segan mengirim karyawannya mengikuti pelatihan ke luar kota. Membantu perusahaan kecil lain dalam hal manajemen perusahaan sehingga perusahaan itu pun ikut berkembang. Kepada seluruh karyawannya, Anita pun menerapkan prinsip kekeluargaan. Warga lokal yang awalnya sulit diajak kerja sama, kini menjadi loyal karena merasa "diorangkan".

Anita berprinsip, "diberkati untuk memberkati". Layaknya matahari, ia ingin menyinari bumi Papua.

Anita yang sudah mendapat penghidupan baik, ingin mengajak orang-orang Papua lebih baik lagi. Hidup lebih baik di Papua, di bumi perawan nan menawan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mencari Rezeki Tanpa Polusi dengan Sunyi Bunyi Motor Listrik

Mencari Rezeki Tanpa Polusi dengan Sunyi Bunyi Motor Listrik

Whats New
Bantu Akses Kesehatan Warga Tapsel, Agincourt Bangun Fasilitas Tambahan RS Bhayangkara

Bantu Akses Kesehatan Warga Tapsel, Agincourt Bangun Fasilitas Tambahan RS Bhayangkara

Rilis
Menkop UKM: Kewenangan Saya Terbatas untuk Tangani Koperasi Bermasalah

Menkop UKM: Kewenangan Saya Terbatas untuk Tangani Koperasi Bermasalah

Whats New
Kemenaker: Pekerjaan yang Bersifat Rutin dan Terprediksi Rentan Terkena Otomasi

Kemenaker: Pekerjaan yang Bersifat Rutin dan Terprediksi Rentan Terkena Otomasi

Rilis
Targetkan Capai 1 Juta Jargas, Ini Strategi Bisnis dan Pemasaran Subholding Gas Pertamina

Targetkan Capai 1 Juta Jargas, Ini Strategi Bisnis dan Pemasaran Subholding Gas Pertamina

Whats New
Penjelasan Sri Mulyani soal Rencana Kenaikkan Tarif Listrik Golongan 3.000 VA ke Atas

Penjelasan Sri Mulyani soal Rencana Kenaikkan Tarif Listrik Golongan 3.000 VA ke Atas

Whats New
Semua Pelaku Usaha Jasa Keuangan Harus Tunduk pada POJK Perlindungan Konsumen

Semua Pelaku Usaha Jasa Keuangan Harus Tunduk pada POJK Perlindungan Konsumen

Whats New
Keputusan Jokowi Cabut Larangan Ekspor CPO Dinilai Sudah Tepat

Keputusan Jokowi Cabut Larangan Ekspor CPO Dinilai Sudah Tepat

Whats New
Cek Daftar Pinjol Legal 2022 Terbaru, Jumlahnya Jadi 102

Cek Daftar Pinjol Legal 2022 Terbaru, Jumlahnya Jadi 102

Whats New
Tekan Harga Minyak Goreng Jadi Rp 14.000, Bulog Diminta Cadangkan Pasokan

Tekan Harga Minyak Goreng Jadi Rp 14.000, Bulog Diminta Cadangkan Pasokan

Whats New
Dilema Negara Hadapi Ketidakpastian Global, Kendalikan Inflasi atau Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi

Dilema Negara Hadapi Ketidakpastian Global, Kendalikan Inflasi atau Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi

Whats New
BPJT: MLFF Diterapkan Bertahap di Beberapa Ruas Tol Akhir 2022

BPJT: MLFF Diterapkan Bertahap di Beberapa Ruas Tol Akhir 2022

Whats New
Video Viral Denda Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Rp 30 Juta, Ini Solusi dan Syarat untuk Meringankan Peserta

Video Viral Denda Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Rp 30 Juta, Ini Solusi dan Syarat untuk Meringankan Peserta

Whats New
Sektor Teknologi Masih Tertekan, Bagaimana Prospek Saham GOTO dan BUKA?

Sektor Teknologi Masih Tertekan, Bagaimana Prospek Saham GOTO dan BUKA?

Earn Smart
Alasan Ekspor Minyak Goreng Dicabut: Harganya Sudah Turun Jadi Rp 17.200

Alasan Ekspor Minyak Goreng Dicabut: Harganya Sudah Turun Jadi Rp 17.200

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.