Selama Ramadhan, 3.037 Produk Makanan Tidak Memenuhi Ketentuan

Kompas.com - 01/08/2013, 16:14 WIB
Ilustrasi: Sosis ayam yang diselundupkan dari Malaysia ke Kalbar, Kamis (16/5/2013) diamankan di BPOM Pontianak. Kompas/Agustinus HandokoIlustrasi: Sosis ayam yang diselundupkan dari Malaysia ke Kalbar, Kamis (16/5/2013) diamankan di BPOM Pontianak.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com
- Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengintensifkan pengawasan pangan selama bulan Ramadhan. Hasilnya sampai minggu ke III Ramadhan, BPOM menemukan 3.037 jenis makanan tidak memenuhi ketentuan (TMK), dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 6,9 miliar.

Dari angka tersebut, produk tanpa izin edar (TIE) menyumbang 76 persen dengan kerugian mencapai Rp 5,2 miliar. Untuk jenis produk yang tidak ada TIE banyak ditemukan pada cokelat, minuman energi, minuman kaleng dan kembang gula. Untuk temuan pangan TIE terbanyak, ditemukan di Batam, Pekanbaru, Aceh dan Pontianak, yang merupakan pintu masuk produk dari luar atau dekat dengan perbatasan negara lain.

"Produk impor TIE banyak berasal dari negara Malaysia, Thailand, Singapura, Italia dan Jerman," kata Roy Sparringa, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dab Bahan Berbahaya BPOM di Kantor BPOM, Jakarta, Kamis (1/8/2013).

Sementara produk kadaluwarsa banyak beredar di daerah jauh dari sentra produksi dan distribusi, dan juga sulitnya akses transportasi, seperti Jayapura, Aceh, Kupang, Palangkaraya dan Kendari.

Produk kadaluwarsa banyak ditemukan pada produk biskuit, bumbu instan dan makanan ringan. Kerugian akibat makanan kadaluwarsa ini ditaksir sebesar Rp 1 miliar.

Dibandingkan dengan intensifikasi pengawasan pada tahun 2011 dan 2012, pada tahun ini penemuan makanan TMK mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Tahun 2011 dutemukan 132.255 kemasan makanan TMK dengan nilai kerugian Rp 3,3 miliar.  Dan pada tahun 2012 ditemukan 82.666 kemasan dengan kerugian mencapai Rp 3,3 miliar.

Sementara untuk tahun ini BPOM menemukan 171.887 kemasan makanan MTK dengan nilai total kerugian Rp 6,9 miliar. BPOM akan melakukan tindak lanjut terhadap temuan tersebut, dengan melakukan pembinaan terhadap pemilik sarana serta penegakan hukum berupa sanksi administratif.

"Akan kita telusuri. Pelaku usaha mikro kita bina. Yang penting tau siapa penyuplaynya. Kami lakukan pro justicia, itu yang paling penting," terang Roy.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X