Kompas.com - 19/08/2013, 17:05 WIB
EditorErlangga Djumena

Kemana para petani itu pergi?

Ini masalahnya. Pertama, Masyarakat di Pulau Buru sedang demam emas. Bila setahun yang lalu emas hanya ditemukan di satu lokasi di Gunung Botak, kini ia telah menyebar di 4 lokasi yang berbeda. Kedatangan ribuan pendatang ke pulau yang sepi itu telah membuat kehidupan berubah.

Tambang menyita perhatian kaum muda yang biasa bekerja di sektor pertanian. Di tambang-tambang emas, mereka bisa dibayar tiga kali lipat upah sektor pertanian. Akibatnya, petani tak bisa menanam dan memanen. Sawah-sawah yang menguning dibiarkan begitu saja sampai ditumbuhi alang-alang liar karena tak ada tenaga kerja yang mau terjun ke lahan pertanian.

Kedua, petani pun tak kehilangan akal. Mereka membeli tanah-tanah buangan eks tambang dan membawanya turun. Tanah bekas galian itu mereka urai lagi, dan konon satu hingga tiga gram emas saja bisa didapat. Tetapi akibatnya, tanah-tanah sisa penambangan itu mengendap di dasar-dasar saluran irigasi, membuat dasar saluran naik dan air berhenti mengalir.

Ketiga, ketika sebagian petani yang tak mau beralih ke tambang memilih untuk tetap bertani, maka mereka pun menghadapi masalah baru. Beras hasil panenan mereka tidak laku dijual sehingga harganya turun.

Di masyarakat beredar informasi bahwa pertanian di Pulau Buru telah “tercemar” air raksa dan merkuri. Mereka pun berhenti makan beras lokal dan beralih ke beras impor yang telah diolah menjadi lebih putih dengan teknologi pasca panen yang lebih baik

Petani lokal pun makin terpuruk, sudah airnya tak mengalir, buruh tak ada, hasilnya pun tak ada yang membeli. Biaya produksi naik, tapi harga jual anjlok. Meski bupati telah mengelontorkan paket-paket stimulus yang baik, ribuan hektar sawah tetap tidak diolah sampai musim tanam berakhir. Dan lumbung padi Maluku ini pun terancam punah.

Benih-benih Konflik

Emas seperti memunculkan duka-duka lama, yang obatnya hanya satu: Ketegasan. Tegas bersikap, tegas mengatur dan tegas menjaga persaudaraan. Tegas ini juga berarti memenuhi janji yang terutang.

Duka lama itu adalah soal tanah.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.