Kompas.com - 19/08/2013, 17:05 WIB
EditorErlangga Djumena

Setahun yang lalu, saat memulai karya sosial di desa terpencil di pedalam Pulau Buru saya bertamu menemui Hinolong Raja yang membawahi bapak-bapak Soa di wilayah kerja Rumah Perubahan. Di desa Kobalahin, bapak Raja bercerita bagaimana tanah-tanah adat milik rakyat diambil begitu saja oleh pemerintah.

Mulanya tanah itu dipakai untuk kepentingan negara, sebagai area tahanan politik. Tahanan politik mengolah tanah. Mengajarkan pertanian, tetapi masyarakat adat tetap hidup dalam budaya merambah hutan dan berburu. Mereka hanya menjadi penonton, dan biasa hidup dengan pola "hari ini masuk hutan, hari ini hasil didapat.". Sedangkan masyarakat pertanian mempunyai budaya yang lebih modern: perencanaan, proses dan kesabaran menunggu hasil.

“Tetapi begitu tahanan dilepas, tanah-tanah subur itu tidak diserahkan kembali kepada kami, melainkan dialihkan kepada transmigran. Dan keturunannya bisa memperjualbelikannya. Mereka pegang sertifikat,” ujar Raja.

Raja juga mengeluhkan fasilitas jalan yang hanya dibangun hingga ke lahan-lahan pertanian. Sedangkan jalan menuju pemukiman adat tetap saja buruk.

Tak lama setelah itu saya mendengar dari penduduk transmigran bahwa hektaran tanah mereka direbut masyarakat adat. Aparat desa kewalahan, karena pemerintah bersikap mendua. Bagi masyarakat transmigran batas tanah adat dan lahan pertanian (transmigran) tiba-tiba menjadi tidak jelas, tetapi bagi masyarakat adat, tanah itu tetap diaku sebagai tanah nenek moyang mereka yang proses alih kepemilikannya belum jelas.

Tanpa basa-basi, masyarakat adat yang tiba-tiba mendapat uang dari emas mulai membangun rumah di atas tanah-tanah yang dulu diwariskan nenek moyang mereka. Rumah-rumah batu yang tak terplester utuh kini bertebaran di atas sawah-sawah itu sambil menyumbat saluran-saluran irigasi. Penduduk trans yang mengaku pernah mencetak sawah pun gigit jari.

Di satu kelompok saya mendengar umpatan terhadap kelompok-kelompok lainnya, demikian pula sebaliknya.

Perubahan pun terjadi. Masyarakat adat yang dulu hidup miskin kini mulai bisa membeli sepeda motor. Yang tadinya tak punya rumah, kini mulai membangun rumah. Tetapi basis fondasinya tidak kuat: Emas hanyalah rezeki sementara, apalagi bila dikuras habis-habisan. Pohon-pohon minyak kayu putih yang dulu menjadi sumber kekayaan akan mulai tergerus hingga ke akar-akarnya.

Emas juga membawa perubahan sosial. Rumah tangga retak, penyakit-peyakit baru bermunculan, bersama dengan peristiwa kriminal yang dulu tidak pernah ada. Emas juga memicu sifat rakus dan tamak yang tiada habis. Membuat kaum remaja berhenti sekolah. Tetapi hanya itu pilihan yang ada di kepala mereka yang biasa merambah hutan.

Saya pikir secuil kisah di Pulau Buru ini bukanlah khas masalah di satu lokasi, melainkan kisah pembangunan yang ditinggalkan negara sebelum masalahnya tuntas. Utang-utangnya belum dibayar dan masalahnya tak ditangani secara terpadu. Bila ini negeri merdeka, maka kebebasan saja tidak cukup. Dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang melahirkan bangsa yang bermartabat, cerdas, damai, adil dan sejahtera seperti amanat para pejuang kemerdekaan. Bisahkah masalah ini diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri? Saya pun meragukannya.

Kalau kita ingin swasembada beras, dan kalau kita ingin masalah pangan teratasi, jelas dibutuhkan sebuah ketegasan dan langkah yang terpadu. Jadi jangan abaikan Pulau Buru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.