Krisis Kedelai, Nasib Miris Produsen Makanan Rakyat

Kompas.com - 28/08/2013, 08:04 WIB
Kedelai KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOKedelai
EditorErlangga Djumena

Bukan hanya produsen, kenaikan harga kedelai juga berpengaruh terhadap para pedagang makanan khas Indonesia ini. Pedagang tempe dan tahu di beberapa pasar di Jabodetabek, terpaksa mengurangi stok karena pembeli berkurang.

Di Pasar Kebayoran Lama dan Pasar Blok A di Jalan Fatmawati, Jakarta, makanan ini tetap dicari meski tingkat penjualan menurun. ”Saya biasanya bisa jual 20-30 papan tempe, sekarang bisa separuh saja sudah bagus. Sudah seminggu ini saya minta stok tempe paling banyak 10 papan,” kata Yan, pedagang di Kebayoran Lama.

Di Pasar Gondangdia, Jakarta, saat hari sudah siang, tempe dan tahu dagangan Slamet Riyadi (41) masih banyak tersisa, padahal pasar mulai sepi. ”Sejak harga mahal, dagangan saya sering bersisa. Tidak selalu habis,” ujar Slamet.

Tahu dan tempe yang dijajakannya adalah buatan sendiri. Kenaikan harga kedelai tidak membuat Slamet dan produsen lain serta-merta menaikkan harga. ”Saya pernah menaikkan harga tempe dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 setelah Lebaran, konsumen protes. Mereka tak mau membeli tempe dengan harga Rp 6.000,” katanya.

Pelanggan restoran yang kerap mengambil tempe-tahu dari Slamet juga menolak harga baru. Akhirnya, Slamet hanya bisa menyiasati keadaan dengan mengecilkan ukuran tempe dan tahu. Selain itu, dia juga hanya bisa pasrah menerima penurunan omzet dan keuntungan sampai 40 persen sebagai ekses kenaikan harga ini.

Melejitnya harga kedelai bukan sekali ini terjadi. Nasib produsen tahu dan tempe ini seperti mengulang kisah pada Juli 2012, saat harga kedelai melambung dari Rp 5.500 menjadi Rp 8.200 per kilogram. Ketika itu, ribuan produsen tempe dan tahu mogok produksi tiga hari sebagai bentuk protes kepada pemerintah. ”Pemerintah harus segera mengendalikan harga kedelai sehingga kami tidak gulung tikar,” kata Rujito, Bendahara Kopti Tangsel.

Kini ribuan pengusaha dan makanan rakyat ini menunggu realisasi stabilisasi harga kedelai. Mereka tidak ingin usahanya hancur. Mereka berharap tidak terbelenggu berkepanjangan oleh harga kedelai tinggi akibat ketergantungan kepada impor. (MKN/PIN/NEL/ART/RAY)

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X