Pemerintah, Jangan Mimpi Bisa Jual Bank Mutiara Sekarang..

Kompas.com - 29/08/2013, 09:47 WIB
Bank Mutiara images.kontan.co.id Bank Mutiara
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak awal Bank Mutiara yang dulu adalah Bank Century sudah diperkirakan tak akan bisa dijual senilai dana talangan Rp 6,7 triliun yang pernah didapatnya. Ditawarkan dengan harga pasar pun, investor akan berpikir panjang karena harus berhadapan dengan risiko hukum dan politik.

"Tidak realistis menjual Bank Mutiara dengan semua persoalan hukum, politik, dan reputasinya," ujar ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Hari Wibowo, Kamis (29/8/2013). Dia mengatakan hal itu sudah disampaikannya sejak rencana penjualan pertama Bank Mutiara.

"Kementerian Keuangan dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan, red) sebaiknya berhenti bermimpi bisa menemukan investor yang berani menanggung risiko itu dan mau membayar Rp 6,7 triliun," kata Dradjad. Dia menyebutkan harga pasar tertinggi Bank Mutiara adalah 350 juta dollar AS.

"Itu pun harga ketika pasar keuangan sedang bullish," imbuh Dradjad. Sementara dalam kondisi pasar sedang bearish seperti sekarang, sebut dia, nilai pasar untuk Bank Century tak sampai 300 juta dollar AS.

Namun, tegas Dradjad, dengan harga pasar itu pun para investor masih harus berhadapan dengan risiko hukum dan politik yang berat sekali. "Jadi, para investor butuh diskon besar (kalau Bank Mutiara mau dijual)," ujar dia. Karenanya Dradjad memperkirakan harga "pantas" untuk Bank Mutiara akan masih lebih rendah lagi dari harga pasar.

Risiko hukum dan politik

Dradjad menguraikan beberapa risiko hukum yang harus dihadapi siapa pun investor yang berminat membeli Bank Mutiara dengan harga "pantas".

Pertama, sebut dia, adalah potensi kerugian negara karena bank ini dilego kurang dari Rp 6,7 triliun, nominal dana talangan yang dikucurkan untuk menyelamatkan Bank Century yang merupakan cikal bakalnya. "Bahkan jika terjual Rp 6.7 triliun, yang itu pun hampir mustahil, tetap ada potensi kerugian negara jika diindeks dengan menghitung inflasi," papar Dradjad.

Kedua, investor akan berhadapan dengan risiko ancaman gugatan dari nasabah Bank Century yang masih menuntut pengembalian uang mereka. Ketiga, pembeli bank ini terancam terseret-seret proses hukum internasional terkait pemilik lama bank ini.

Bisa saja, kata Dradjad, investor meminta jaminan "clear and clean" dari LPS untuk membebaskan mereka dari risiko hukum. "Tapi LPS mana berani? Kalaupun berani, mana punya kewenangan?" imbuh dia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X