Pengrajin Tahu dan Tempe Ancam Mogok, Ini Komentar Mendag?

Kompas.com - 30/08/2013, 18:11 WIB
Perajin tempe di Kabupaten Tasikmalaya, mengaku masih memaksakan produksinya, Senin (26/8/2013). KOMPAS.com/IRWAN NUGRAHAPerajin tempe di Kabupaten Tasikmalaya, mengaku masih memaksakan produksinya, Senin (26/8/2013).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Merosotnya nilai tukar rupiah yang berimbas terhadap impor komoditas bahan pokok seperti kedelai, berujung ancaman aksi mogok dari pengrajin tahu dan tempe.

Akibatnya, sejumlah pengrajin tahu dan tempe di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya memutuskan akan melakukan aksi mogok produksi massal selama tiga hari.

Menyikapi rencana itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan Irawan mengatakan, para pengrajin tersebut sebenarnya khawatir tidak dapat pasok jika importir mengurangi volume akibat rupiah anjlok.

"Kami tahu dari importir bahwa pasokan ini cukup sampai beberapa bulan ke depan. Saya juga memberi izin kepada para importir itu supaya bisa datangkan lagi," kata Gita seusai peluncuran bursa timah Indonesia, di Jakarta, Jumat (30/8/2013).

Jika sudah mengantongi izin, lanjut Gita, idealnya barang impor akan masuk Indonesia dalam tiga-empat minggu ke depan. Soal kedelai, Gita mengakui Indonesia masih sangat tergantung impor.

Oleh karenanya ia berharap, dengan insentif berupa harga pembelian pemerintah (HPP) yang sebesar Rp 7.000 per kilogram, dapat memberikan semangat petani menanam kedelai.

Menurut Gita, saat ini sudah ada beberapa petani lokal yang akan memasuki masa panen dalam dua-tiga bulan ke depan. Namun, lagi-lagi volumenya belum mencukupi kebutuhan nasional. Sampai akhir tahun 2013, diperkirakan Indonesia masih butuh mengimpor sebanyak 534.000 ton kedelai.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Makanya, kita berharap nilai rupiahnya segera stabil, sehingga harga yang didatangkan stabil. Kita juga berharap tidak ada anomali cuaca di Eropa, seperti beberapa waktu lalu. Kalaupun terjadi kita sudah melakukan studi untuk mengambil kedelai dari Paraguay, Brasil, Argentina, dan lainnya," jelas Gita.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X