Kompas.com - 02/09/2013, 09:11 WIB
Pekerja memperlihatkan kedelai impor di toko Sinar Kedele di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (2/3/2013). KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja memperlihatkan kedelai impor di toko Sinar Kedele di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (2/3/2013).
EditorErlangga Djumena

”Saya memperoleh kontrak dengan toko khusus mendoan di Purwokerto sehingga tak berani memperkecil ukuran tempe. Kalau yang dipasok ke pasaran lain, saya terpaksa mengurangi ukuran tempe karena belum berani menaikkan harga,” ujar M Tohirin (65), perajin tempe generasi ketiga keluarga Sarengat di Desa Pliken.

Tak lagi ”mendo” Perajin yang dalam sehari memproduksi 2.000 bungkus mendoan itu mengaku, karena tetap mempertahankan kedelai impor sebagai satu-satunya bahan baku, ia terpaksa menaikkan harga jual dari Rp 1.000 per bungkus berisi tiga lembar menjadi Rp 1.200 per bungkus. Ia khawatir jika mengurangi ukuran atau mencampur bahan baku, ia akan kehilangan kepercayaan dari pelanggan.

Ketua Kelompok Perajin Tempe Sari Mulya, Desa Pliken, Sumarman mengakui, perajin mendoan amat bergantung pada kedelai impor asal Amerika Serikat (AS). Kebutuhan kedelai sebanyak 13 ton per hari bagi 564 perajin mendoan di desa itu dipenuhi dari impor. Alasannya, butiran kedelai impor besar-besar, putih, dan mudah mengembang sehingga bentuk tempe yang dihasilkan bagus. Kedelai lokal kebanyakan berwarna hitam serta butirannya kecil dan sulit mengembang. Jika dibuat tempe, hasilnya kurang bagus.

Menurut Sumarman, upaya mencampur kedelai dengan bahan baku lain hanya dilakukan beberapa perajin, terutama yang konsumennya adalah warga kelas menengah ke bawah. Untuk pasar menengah ke atas, perajin memilih menaikkan harga atau mengurangi produksi.

Tempe mendoan, oleh-oleh khas Banyumas, memang dikenal dengan rasa gurih dan bertekstur lembek. Karena itu, imbuh Ny Lestari (44), salah satu pemilik toko oleh-oleh di kawasan Sawangan, Purwokerto, tempe berukuran tipis yang digoreng setengah matang itu akan kehilangan teksturnya jika bahan bakunya dicampur.

Jika dicampur bahan lain, seperti ampas tahu dan parutan singkong, mendoan akan lebih sulit matang walau baluran tepung di luar sudah mengeras tersiram minyak panas.

”Mendoan itu, kan, tidak boleh digoreng lama. Hanya seperti dicelup ke minyak panas. Kalau bahannya dicampur, selain rasanya yang kurang gurih, menggorengnya juga sedikit lebih lama. Akibatnya, teksturnya tidak akan mendo (setengah matang) lagi,” kata Lestari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pencampuran kedelai dengan bahan baku lain tentu bakal menurunkan kualitas gizi tempe. Padahal, tempe merupakan salah satu penganan khas Nusantara yang menjadi primadona makanan tradisional sebab murah, tetapi berprotein tinggi.

 

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.