Kompas.com - 04/09/2013, 07:46 WIB
Pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor. 
KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor.
EditorErlangga Djumena

Pasar reguler Rumah Tempe Indonesia adalah pasar kelas menengah ke atas, sedangkan pasar khusus kedelai sampai sekarang baru melayani satu perusahaan farmasi yang memproduksi bubur tempe.

Harga tempe dari Rumah Tempe Indonesia memang lebih mahal karena biaya produksi dan bahannya lebih mahal. Selisih harga untuk setiap ukuran rata-rata Rp 3.000 per potong. Tempe ukuran 12 x 20 sentimeter seberat 450 gram dibanderol Rp 7.000. Tempe ukuran 18 x 20 seberat 700 gram dihargai Rp 10.000. Adapun tempe ukuran 14 x 30 seberat 800 gram dibanderol Rp 11.000 dan tempe ukuran 12 x 15 seberat 300 gram dihargai Rp 5.000.

”Ragi yang kami gunakan ragi murni. Semua peralatan yang kami gunakan terbuat dari stainless steel dengan standar food grade dengan proses pengerjaan dijamin kebersihannya. Oleh karena itu, batas kedaluwarsa tempe produksi kami bisa sampai lima hari di kulkas,” tutur Endang.

Bahan imporUntuk pasar reguler, Rumah Tempe Indonesia, seperti halnya para perajin tempe di Tanah Air, masih menggunakan kedelai hasil rekayasa genetik dari Amerika Serikat. ”Kami hanya membeli kedelai nonrekayasa genetik untuk pasar khusus kami yang dibeli satu perusahaan farmasi untuk makanan bayi berupa bubur tempe,” ungkap Endang.

Tempe memang sangat baik untuk melindungi pencernaan bayi. Proteinnya sudah terurai menjadi asam amino, kata Endang, sehingga lebih mudah dicerna tubuh. Tempe memiliki kandungan vitamin B1, B2, B3, asam pantonenat, B6, biotin, asam folat, B12, dan vitamin A yang bermanfaat untuk tubuh. Selama proses fermentasi akan dihasilkan beberapa senyawa bioaktif sebagai zat antioksidan, antikanker.

Endang mengakui pasar reguler tempe dari Rumah Tempe Indonesia masih sebatas pasar kelas menengah ke atas. ”Bukan karena harganya lebih mahal, melainkan karena penghargaan atas kualitas produk baru sebatas kelas menengah ke atas,” ucapnya.

Selain diedarkan di sejumlah perumahan elite di Bogor, tempe produksi Rumah Tempe Indonesia dikonsumsi oleh kalangan vegetarian dan disajikan restoran-restoran kelas atas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Kami juga menerima pesanan dari luar kota, tetapi tempe hanya kami antar sampai Stasiun Bogor. Selanjutnya, pemesan yang mengambil di sana,” kata Endang.

Sabtu sore itu, Suyanto (38), kepala produksi tempe di Rumah Tempe Indonesia, masih bekerja membuat tempe bersama empat pria lainnya. Kedelai dicuci di dandang besar. Dari sana, kedelai dipindahkan ke dandang besar lainnya untuk direbus.

Setelah direbus, kedelai seberat 70 kilogram itu dihamparkan dan diangin-angin dengan kipas angin. Setelah dingin, kedelai ditimbang, diberi ragi, dan dimasukkan ke dalam plastik, lalu diletakkan di rak-rak selama empat hari, menunggu menjadi tempe.

Dengan bangga Suyanto mengatakan, ”Sampai sekarang, tempe dari Rumah Tempe Indonesia adalah tempe terbaik di dunia.” Endang pun menyela, ”Mudah-mudahan Indonesia tidak menjadi negara pengimpor tempe setelah menjadi pengimpor kedelai.”

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X