"Jangan Itu-itu Saja Perajin yang Diajak Pameran"

Kompas.com - 16/09/2013, 14:08 WIB
Indaryanto merangkai barang bekas dari berbagai macam jenis logam menjadi bahan baku kerajinan saat dipamerkan dalam Semarang Industri Expo 2013 di Mal Sri Ratu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (1/5/2013). Kerajinan tangan dari logam bekas ini banyak dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Medan, dan Bali. KOMPAS/P. RADITYA MAHENDRA YASAIndaryanto merangkai barang bekas dari berbagai macam jenis logam menjadi bahan baku kerajinan saat dipamerkan dalam Semarang Industri Expo 2013 di Mal Sri Ratu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (1/5/2013). Kerajinan tangan dari logam bekas ini banyak dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Medan, dan Bali.
|
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com
- Potensi sektor kerajinan di Indonesia masih sangat besar. Dari catatan Kementerian Perdagangan (Kemendag) rata-rata per tahun ekspor kerajinan baru mencapai 600 juta dollar AS. Kecilnya kontribusi terhadap porsi ekspor nasional secara seluruh tersebut, karena perajin terkendala oleh masalah pemasaran.

Sebetulnya baik dari Kemendag pun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) selaku payung para perajin, kerap menggelar kegiatan pemasaran bagi pelaku sektor kerajinan, seperti pameran. Permasalahannya, pameran pun tak mampu menyingkap banyaknya potensi yang masih tersembunyi. Salah satu alasannya adalah, perajin yang ikut serta dalam kegiatan pameran hanya perajin yang itu-itu saja.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Manajemen, Hesti Indah Kresnarini menuturkan pembinaan yang seperti itu kurang tepat.

"Itulah keluhannya, makanya ini harus menjadi perhatian Dekranasda (Dekranas daerah), jangan itu-itu saja yang diajak pameran," kata Hesti kepada Kompas.com, di kediaman Wapres RI, Boediono, di Jakarta, Senin (16/9/2013).

"3-4 pameran bisa dilepas. Itu yang hampir matang silakan jalan sendiri. Ambil lagi yang baru," tambahnya.

Ia menjelaskan, pembinaan yang sebenarnya adalah dengan melepas perajin yang sudah hampir matang. Dengan begitu pelaku usaha kerajinan tersebut bisa berhitung dengan baik biaya promosi secara mandiri, peluang pasar, serta keuntungan yang bakal didapat.

"Harus bisa mendapat potensi baru di tengah kondisi ekonomi yang seperti ini. Target ekspor tahun ini, minimal sama, sudah bagus," lanjut Hesti.

Dalam sambutannya, Ketua Harian Dekranas, Okke Hatta Rajasa, mengungkapkan Indonesia memiliki hampir 480 etnis budaya yang menjadi peluang sektor kerajinan. Sebagian besar berupa produk budaya untuk pemenuhan sandang dan pangan.

Di ulang tahunnya yang ke-33, Dekranas memberikan penghargaan seperti Dekranas Award 2013 serta Pembina Terbaik. Adapun tema kegiatan HUT Dekranas adalah membangun kreativitas pengrajin melalui penguatan kerjasama Dekranas dan Dekranasda.

Sementara Ketua Umum Dekranas Herawati Boediono menyebutkan, dekranasda merupakan ujung tombak dalam merencanakan dan melaksanakan program kerja.

"Maka yang di daerah ini harus ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan jaman, pasar, sekaligus menguatkan jatidiri bangsa. Daerah perbatasan hasil kerajinan harus terus dijaga," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X