Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jumali "Jiwo Jebret", Mengubah Desa Tandus jadi Wilayah Sentra Buah

Kompas.com - 16/09/2013, 17:55 WIB
Kontributor Surakarta, M Wismabrata

Penulis

Kenapa pepaya?
Pengalaman bertemu dengan salah satu pioneer pengusaha pepaya di Boyolali, Muslim, membuat Jiwo terinspirasi untuk menularkannya di Desa Pogog. Jiwo pun mengajak salah satu tokoh Desa Pogog, Rimo (41) untuk belajar budidaya pepaya.

Namun upaya Jiwo untuk mengajak warga desa bercocok tanam pepaya tidak mulus begitu saja. Ia justru mendapat cibiran dari warga desa Pogog, yang terbiasa menanam singkong.

“Hal yang tersulit saat menghadapi warga adalah merubah mind set tentang bagaimana menerapkan SOP (standard operation procedure) dalam menanam papaya,” katanya.

Warga terlanjur mengenal buah pepaya tidaklah bernilai dan hanya sekedar pelengkap sayur mayur.

“Saat  itu saya kirim 4.000 bibit dalam dua tahap untuk sekitar 51 KK (kepala Keluarga). Banyak yang gagal, tapi tidak semuanya. Ada salah satu warga yang berhasil dan panen dengan mendapat hasil Rp 6 juta. Hal bisa mengubah cara pandang warga yang lain terhadap pepaya,” katanya.

Salah satu warga yang berhasil membudidayakan pepaya ini adalah Yono (48). Dia berkisah, pada musim tanam pepaya pertama kali pada tahun 2007, Yono mengaku nekat menanam kurang lebih 250 bibit pepaya karena ingin membuktikan kepada isterinya bahwa pepaya bisa menghasilkan.

Keyakinan tersebut didapat setelah belajar bersama Jiwo dan melihat potensi dari buah pepaya yang tidak hanya sekedar pelangkap sayur mayur. “Saat itu dari 250 bibit yang saya tanam, hanya 45 yang mati, dan saya bisa panen mendapat Rp 6 juta rupiah,” kata Yono.

Keberhasilan Yono, membuat program pemberdayaan masyarakat ala Jiwo Pogog melalui pepayanisasi ini mulai diminati warga desa lainnya. Banyak warga yang tertarik untuk menanam pepaya di kebun mereka. Hingga saat ini, warga sudah melakukan empat kali musim tanam pepaya. 

Untuk mendukung agar kegiatan tersebut berjalan, Jiwo bersama warga desa melakukan evaluasi, dan hasil dari evaluasi adalah perlunya program pipanisasi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman pepaya warga.

Melalui iuran, akhirnya terkumpul modal Rp 10 juta untuk melakukan program pipanisasi. Adapun air yang digunakan berasal dari mata air yang jaraknya cukup jauh dari desa tersebut. Hasilnya, program pipanisasi bisa menghasilkan setengah liter air per detik.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Jonan Dulu Keberatan dengan Proyek Kereta Cepat?

Kenapa Jonan Dulu Keberatan dengan Proyek Kereta Cepat?

Whats New
Ironi Kereta Cepat: Diklaim B to B, Tapi Minta Jaminan Pemerintah dan APBN

Ironi Kereta Cepat: Diklaim B to B, Tapi Minta Jaminan Pemerintah dan APBN

Whats New
Genjot Produksi, Pupuk Indonesia Grup Amankan Pasokan Gas dari 5 Perusahaan Migas

Genjot Produksi, Pupuk Indonesia Grup Amankan Pasokan Gas dari 5 Perusahaan Migas

Whats New
Viral 1 Penduduk RI Tanggung Utang Pemerintah Rp 28 Juta, Ini Kata Kemenkeu

Viral 1 Penduduk RI Tanggung Utang Pemerintah Rp 28 Juta, Ini Kata Kemenkeu

Whats New
Gojek Klaim Pengguna Layanan GoCorp Tumbuh 3 Kali Lipat Dibanding 2022

Gojek Klaim Pengguna Layanan GoCorp Tumbuh 3 Kali Lipat Dibanding 2022

Whats New
Perluas Jaringan dan Layanan, BRI Insurance Hadir di Bengkulu

Perluas Jaringan dan Layanan, BRI Insurance Hadir di Bengkulu

Whats New
United Bike Berencana IPO untuk Perluas Bisnis, Ini Bocorannya

United Bike Berencana IPO untuk Perluas Bisnis, Ini Bocorannya

Whats New
Subholding Gas Pertamina Kembangkan Dua Proyek LNG di Berau dan Sumenep

Subholding Gas Pertamina Kembangkan Dua Proyek LNG di Berau dan Sumenep

Whats New
Cerita Jokowi, Dulu 'Dicuekin' Saat Tawarkan IKN ke Calon Investor, Sekarang Pada Minta...

Cerita Jokowi, Dulu "Dicuekin" Saat Tawarkan IKN ke Calon Investor, Sekarang Pada Minta...

Whats New
Lazada Logistics-Aizen Kerja Sama Pembiayaan Kendaraan Listrik di RI

Lazada Logistics-Aizen Kerja Sama Pembiayaan Kendaraan Listrik di RI

Whats New
Promosi dari Traveloka Mampu Tingkatkan Jumlah Kunjungan ke Destinasi Jarang Dikunjungi

Promosi dari Traveloka Mampu Tingkatkan Jumlah Kunjungan ke Destinasi Jarang Dikunjungi

Whats New
UMKM Binaan BTN Perkenalkan Produk di China

UMKM Binaan BTN Perkenalkan Produk di China

Whats New
Kelakar Jokowi: Mana Mungkin Aguan Cs Mau Investasi Rp 20 Triliun di IKN Kalau Tak 'Cuan'

Kelakar Jokowi: Mana Mungkin Aguan Cs Mau Investasi Rp 20 Triliun di IKN Kalau Tak "Cuan"

Whats New
Soal 'Predatory Pricing', Menkominfo: Saya Sudah Tanya ke TikTok

Soal "Predatory Pricing", Menkominfo: Saya Sudah Tanya ke TikTok

Whats New
Kementan Gelar Jalan Sehat dan Minum Herbal dengan Peserta Terbanyak, Pecahkan Rekor Dunia

Kementan Gelar Jalan Sehat dan Minum Herbal dengan Peserta Terbanyak, Pecahkan Rekor Dunia

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com