Nilai Tukar Rupiah Terburuk Se-Asia

Kompas.com - 17/09/2013, 14:12 WIB
Teller menghitung uang dolar AS di banking hall salah satu bank BNI di Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013). TRIBUNNEWS/HERUDINTeller menghitung uang dolar AS di banking hall salah satu bank BNI di Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

SINGAPURA, KOMPAS.com — Defisit neraca pembayaran semakin menekan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Akibatnya, rupiah mencatat rekor sebagai mata uang paling buruk kinerjanya se-Asia. Nilai tukar rupiah ini lebih buruk dibandingkan rupee India.

Dari kompilasi data yang dilakukan Nomura Holdings Inc, sebagaimana dikutip oleh Bloomberg Selasa (17/9/2013), nilai tukar rupiah telah melemah 13,9 persen sejak Juni. Kondisi ini melampaui kinerja rupee yang pada periode sama melemah 10 persen.

Sebagaimana diketahui, rupee terpuruk dan sempat menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Akan tetapi, kerja keras dari bank sentral India menyebabkan pelemahan itu berhasil diredam, tanpa harus menaikkan suku bunga acuan.

Dalam hal ini, bank sentral India memasok kebutuhan dollar AS untuk tiga perusahaan pengimpor migas terbesar di negara itu.

Sejauh ini, Bank Indonesia telah memulai langkah agresif sejak 2005 dengan melakukan pengetatan moneter, mengikuti Brasil dan India untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar. Di sisi lain, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia berada di bawah 100 miliar dollar AS, tepatnya 92,99 miliar dollar AS per Agustus.

"Defisitnya neraca pembayaran menjadi faktor utama penyebab anjloknya nilai tukar. Tidak hanya berasal dari suplai dollar AS, tetapi juga terkait faktor kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia," ujar Euben Paracuelles, ekonom Nomura.

Defisit

Untuk itu, perusahaan investasi itu memperkirakan defisit akan menipis pada semester II tahun ini. Akan tetapi, terjadinya capital outflow akibat pemangkasan stimulus oleh the Fed akan menjadi faktor dominan yang menekan nilai tukar rupiah.

Pada bulan ini, Pemerintah Indonesia telah melepas sukuk senilai 1,5 miliar dollar AS dengan imbal hasil paling tinggi sejak 2009. Di sisi lain, pemodal asing telah menarik dana hingga 2,66 miliar dollar AS dari Bursa Efek Indonesia, terhitung sejak Juni.

"Untuk itu, hanya satu opsi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan nilai tukar rupiah, yaitu dengan menaikkan suku bunga acuan," tulis riset Credit Suisse Group AG yang dirilis pekan lalu.

Credit Suisse juga menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang paling rentan terkena imbas pengurangan stimulus ekonomi the Fed ketimbang negara-negara ASEAN lainnya, seperti Thailand dan Filipina.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Bloomberg
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X