Pemerintah Hapus Bea Masuk Impor Kedelai

Kompas.com - 18/09/2013, 20:44 WIB
ILUSTRASI KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDIILUSTRASI
Penulis Sandro Gatra
|
EditorBambang Priyo Jatmiko


JAKARTA, KOMPAS.com
- Pemerintah akhirnya membebaskan bea masuk untuk impor kedelai. Langkah itu diambil menyikapi tingginya harga kedelai yang akhirnya memberatkan produsen tahu dan tempe.

"Bea masuk sebesar 5 persen kita bebaskan sementara. Kita harapkan bisa membantu para pengrajin tahu tempe," kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa saat menyampaikan hasil sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu ( 18/9/2013 ).

Sidang kabinet membahas masalah ekonomi itu dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dan dihadiri jajaran kabinet.

Hatta mengatakan, kebijakan bebas bea masuk akan terus diterapkan selama harga kedelai tinggi. Harga kedelai naik salah satunya karena nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah.

Di sisi lain, dengan harga kedelai yang cukup tinggi saat ini, Hatta meminta kepada Menteri Pertanian Suswono untuk mendorong petani meningkatkan produksi kedelai. Saat ini, produksi dalam negeri tidak cukup memenuhi kebutuhan.

"Mumpung harganya baik, kita minta petani menanam kedelai. Sekarang ini dari 2,5 juta ton kebutuhan kita, baru 800 ribu ton produksi (dalam negeri). Selama belum bisa memenuhi dalam negeri, kita impor," pungkas Hatta.

Sebelumnya, lewat akun Twitter @SBYudhoyono, SBY mengaku memantau masyarakat yang masih membicarakan kekurangan stok kedelai maupun tingginya harga kedelai.

Presiden mengatakan, akibat pertambahan penduduk, meningkatnya kelompok menengah, dan daya beli masyarakat, kebutuhan kedelai menjadi meningkat.

Presiden menambahkan, harga kedelai harus membuat petani untung, namun juga bisa dijangkau produsen tahu dan tempe. "Saya harap para importir dan pedagang tidak melakukan hal-hal yang membuat harga kedelai naik secara tidak wajar. Ingat rakyat kita," kata SBY.

Harga kedelai sempat tembus Rp 10.000 per kilogram. Tingginya harga kedelai itu membuat produsen tahu dan tempe sulit menentukan harga jual. Ketika harga dinaikkan, pembeli mengeluh sehingga menurunkan omzet.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X