Pertamina Bisa Membeli Minyak Mentah di Pasar Berjangka

Kompas.com - 19/09/2013, 09:59 WIB
Pengisian bahan bakar minyak ke tangki truk di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta, Jumat (28/12/2012). KOMPAS/HERU SRI KUMOROPengisian bahan bakar minyak ke tangki truk di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta, Jumat (28/12/2012).
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com -  Pertamina akan bisa membeli minyak mentah di di pasar berjangka (forward trading).  Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menyatakan, payung hukum yang memungkinkan Pertamina bertransaksi di di pasar berjangka segera rampung. Payung hukum itu nantinya berupa Surat Keputusan Menteri BUMN.

"Sudah selesai, cuman lagi dikonsultasikan ke BPK, targetnya minggu ini selesai," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan, usai rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, di gedung parlemen, Jakarta, Rabu malam (18/9/2013).

Dengan membeli minyak mentah di pasar berjangkadiharapkan bisa mengurangi tekanan rupiah. Selain itu Pertamina juga bisa melindungi diri dari kemungkinan fluktuasi harga.  Untuk informasi saja, Pertamina merupakan salah satu korporasi yang bertransaksi dengan dollar AS.

Namun begitu, sambung Dahlan, yang terpenting adalah tidak terjadi tindak korupsi. Sebagai upaya pencegahan, di dalamnya akan diatur mengenai rate forward, dan jangka waktunya. Transaksi baik forward maupun hedging pada umumnya biasa dilakukan oleh korporasi swasta.

Sedikit berbeda jika dilakukan oleh perusahaan pelat merah, pasalnya uang yang digunakan adalah uang BUMN. "Nanti tidak hanya Pertamina, tapi PLN juga, Pupuk Indonesia juga, ada SOPnya (standard operation procedure)," kata Dahlan.

Dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI, Ketua Umum, Airlangga Hartarto mengatakan kebutuhan dollar AS untuk membeli minyak mentah per hari mencapai rata-rata 150 juta AS dollar.

Dalam kesempatan itu, Menteri BUMN diundang karena BUMN merupakan salah satu pengguna dollar AS terbesar. Dahlan mengatakan, Kementerian BUMN sudah mengambil keputusan agar Pertamina bisa membeli bahan bakar minyak impor di pasar berjangka.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Maka keperluan dollar bisa turun, dan ini perlu dukungan. Karena mungkin ada nasib jelek ke depan. Jadi harapannya ketika rugi, jangan sampai Pertamina dianggap merugikan negara," kata Dahlan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X