Target Pajak Meleset karena Banyak "Penumpang Gratis"

Kompas.com - 23/09/2013, 13:19 WIB
Dirjen Pajak A. Fuad Rahmany KOMPAS/LASTI KURNIA Dirjen Pajak A. Fuad Rahmany
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) menginginkan jumlah penerimaan pajak di tahun ini bisa mencapai Rp 2.000 triliun. Namun, target tersebut kemungkinan besar meleset.

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany mengatakan, potensi penerimaan pajak yang hilang ini karena kesadaran masyarakat Indonesia untuk membayar pajak masih rendah sehingga target penerimaan pajak sulit tercapai.

"Sekarang ini target penerimaan pajak kita Rp 1.148 triliun. Mestinya penerimaan pajak kita bisa Rp 2.000-an triliun, kalau masyarakat mau membayar pajak," kata Fuad saat pembukaan seminar pajak di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (23/9/2013).

Ditjen Pajak mencatat jumlah wajib pajak pribadi hingga saat ini hanya sekitar 520.000 orang. Padahal jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa. Dari sisi wajib pajak perusahaan juga ada 12 juta perusahaan.

Namun demikian, hitungan Ditjen Pajak masih kurang dari setengahnya yang mau membayar pajak. "Sehingga masih banyak yang belum membayar pajak. Mereka yang tidak mau membayar pajak ini hanya menjadi penumpang gratis di negeri ini," katanya.

Alasan Fuad menyebut masyarakat yang belum membayar pajak dengan penumpang gratis karena masyarakat ini menikmati semua fasilitas negara dengan gratis. Padahal, warga negara yang baik harus ikut berkontribusi membangun negaranya, minimal dengan membayar pajak.

Fuad mencontohkan masyarakat Indonesia ini sudah dininabobokan dengan fasilitas gratis. Misalnya jalan raya, jembatan, pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya. Bahkan urusan membeli bahan bakar minyak (BBM) pun, masyarakat mendapat fasilitas subsidi dari negara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Subsidi BBM kita setiap tahun ini mencapai Rp 300 triliun. Uang itu dialokasikan dari pendapatan negara. Nah, pendapatan ini diperoleh dari penerimaan pajak. Kalau Anda tidak mau membayar pajak, lalu menikmati fasilitas ini dengan gratis, maka itu namanya penumpang gratisan," jelasnya.

Untuk itu, Ditjen Pajak akan bekerja sama dengan konsultan pajak untuk meningkatkan penerimaan pajak negara. Selama ini, Indonesia kekurangan tenaga konsultan pajak sehingga perusahaan sendiri juga enggan mengurus pajaknya karena repot atau berusaha mengelabui konsultan pajak dengan hanya mau menyetorkan penerimaan pajak sekadarnya saja.

"Ke depan, konsultan pajak tidak boleh seperti itu. Kita harus bekerja sama agar perusahaan atau wajib pajak pribadi mau membayar pajaknya. Caranya bisa berkonsultasi dengan konsultan pajak ini agar masyarakat mau membayar pajaknya dengan benar," jelasnya.



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER MONEY] Jam Kerja ASN selama PPKM | Bank Mandiri Mundur dari Aceh

[POPULER MONEY] Jam Kerja ASN selama PPKM | Bank Mandiri Mundur dari Aceh

Whats New
Ada Ketentuan Karantina 14 Hari, Biaya Umrah akan Lebih Mahal

Ada Ketentuan Karantina 14 Hari, Biaya Umrah akan Lebih Mahal

Whats New
Penjualan Listrik Tembus Rp 140,5 Triliun, Laba Bersih PLN Meroket Jadi Rp 6,6 Triliun

Penjualan Listrik Tembus Rp 140,5 Triliun, Laba Bersih PLN Meroket Jadi Rp 6,6 Triliun

Whats New
Wapres Ma'ruf Amin Ingin Wakaf Bisa Berbentuk Saham hingga Deposito

Wapres Ma'ruf Amin Ingin Wakaf Bisa Berbentuk Saham hingga Deposito

Whats New
Wapres Ma'ruf Amin Heran RI Kebanjiran Makanan Halal Impor

Wapres Ma'ruf Amin Heran RI Kebanjiran Makanan Halal Impor

Whats New
Penumpang Kereta di Sumatera Wajib Tunjukan Sertifikat Vaksin

Penumpang Kereta di Sumatera Wajib Tunjukan Sertifikat Vaksin

Whats New
Ini Fakta Terbaru Hasil Investigasi BRI Life Usai Ada Dugaan Kebocoran Data

Ini Fakta Terbaru Hasil Investigasi BRI Life Usai Ada Dugaan Kebocoran Data

Whats New
Semester I 2021, Astra Graphia Bukukan Pendapatan Bersih Rp 1,25 Triliun

Semester I 2021, Astra Graphia Bukukan Pendapatan Bersih Rp 1,25 Triliun

Rilis
SIDO Mau Bagikan Saham Bonus, Ini Cara Mendapatkannya

SIDO Mau Bagikan Saham Bonus, Ini Cara Mendapatkannya

Earn Smart
Pendaftaran Program Magister Terapan STIP Jakarta Ditutup, Ada 2.710 Peminat

Pendaftaran Program Magister Terapan STIP Jakarta Ditutup, Ada 2.710 Peminat

Rilis
Passing Grade CPNS 2021 Diumumkan Besok

Passing Grade CPNS 2021 Diumumkan Besok

Work Smart
[TREN EKONOMI KOMPASIANA] Menata Ulang Kerja Hybrid | 'Harga Teman', Komponen Harga yang Masih Misteri

[TREN EKONOMI KOMPASIANA] Menata Ulang Kerja Hybrid | "Harga Teman", Komponen Harga yang Masih Misteri

Rilis
Sektor Ketenagalistrikan Indonesia Sumbang 14 Persen Emisi, PLN: Terendah di ASEAN

Sektor Ketenagalistrikan Indonesia Sumbang 14 Persen Emisi, PLN: Terendah di ASEAN

Whats New
Tak Sampai Setahun, Bankir Jerry Ng Jadi Orang Terkaya Nomor 5 di Indonesia

Tak Sampai Setahun, Bankir Jerry Ng Jadi Orang Terkaya Nomor 5 di Indonesia

Whats New
Mengenal Perbedaan Gejala yang Ditimbulkan Varian Delta dan Delta Plus

Mengenal Perbedaan Gejala yang Ditimbulkan Varian Delta dan Delta Plus

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X