Polemik Mobil Murah karena Waktu yang Tidak Tepat?

Kompas.com - 02/10/2013, 10:24 WIB
Kendaraan diparkir di Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, Kamis (22/8/2013). Kebijakan penyediaan transportasi massal yang aman, murah, dan nyaman menjadi kebutuhan dan solusi pemborosan konsumsi  BBM dan kemacetan. KOMPAS / HERU SRI KUMOROKendaraan diparkir di Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, Kamis (22/8/2013). Kebijakan penyediaan transportasi massal yang aman, murah, dan nyaman menjadi kebutuhan dan solusi pemborosan konsumsi BBM dan kemacetan.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan melihat, kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) menjadi polemik hanya karena masalah waktu (timing) yang tidak tepat. Menurutnya, LCGC bukanlah perkara baru. Itu sudah dipersiapkan 2-3 tahun yang lalu.

Namun, karena keterlambatan administratif sehingga baru keluar pada tahun ini ketika kondisi ekonomi sedang goyah. "Tanya orang otomotif. Mereka itu nunggu-nunggu kok tidak ditandatangani terus, sampai sekarang baru diteken, jadi timingnya aja. Waktu itu kita belum membicarakan perlambatan prekonomian kan," kata dia di Jakarta, Selasa (1/10/2013).

Oleh karenanya, lanjut dia, banyak yang sudah indent tahun lalu. Namun, ia mengatakan karena sudah diputuskan, maka kebijakan tersebut mau tidak mau harus berjalan. "Paling-paling nanti bagaimana mengurangi dampak negatif. Itulah karena terlalu ditunda-tunda dulu ya," lanjut Anton.

Kebijakan LCGC yang dikeluarkan pemerintah memang memunculkan kontroversi. Mulai dari kemacetan ibukota, ancaman terhadap ketahanan energi, sampai potensi pajak yang menguap yang ditaksir mencapai Rp 10 triliun per tahun.

Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta Tulus Abadi, Sabtu (28/9/2013) menjelaskan, potensi kerugian negara itu muncul dari berkurangnya penerimaan pajak akibat kompensasi 10 persen dari pajak penjualan barang mewah (PPnBM) yang diberikan Pemerintah untuk mobil murah.

Sementara itu, Analis Kebijakan Publik dari Universitas Paramadina Dinna Wisnu, Sabtu, mengatakan kebijakan LCGC justru akan menggerus BBM bersubsidi. Menurutnya, sebenarnya orang yang tertarik membeli mobil murah ini adalah mereka yang tidak sanggup membeli Pertamax dalam jumlah besar.

Padahal, diprediksikan, dari seluruh agen pemegang merek yang memproduksi mobil tersebut, jumlah mobil yang dikeluarkan mencapai 600.000 unit per tahun.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X