Ini Komentar Bank Dunia soal Demo Buruh di Indonesia

Kompas.com - 07/10/2013, 13:33 WIB
Aksi long march ribuan buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Demak atau GEBRAK yang menuntut upah layak, memacetkan jalur pantura Demak, Selasa  (24/9/2013) KOMPAS.com (ARI WIDODO)Aksi long march ribuan buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Demak atau GEBRAK yang menuntut upah layak, memacetkan jalur pantura Demak, Selasa (24/9/2013)
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Dunia menilai demo buruh yang marak terjadi di Indonesia sebagai sesuatu yang manusiawi. Namun, untuk memenuhi tuntutan itu, harus dibarengi peningkatan produktivitas.

Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop, menyatakan, kenaikan upah minimum memang harus sesuai dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, kenaikan upah minimum itu juga harus konsisten dengan kenaikan produktivitas buruh.

"Harus dilihat juga sektornya. Karena jika tidak, hanya menimbulkan trouble dalam bisnis dan menimbulkan PHK," jelasnya, Senin (7/10/2013).

Ia mengatakan, peningkatan produktivitas tersebut akan berdampak positif terhadap pengusaha dan perekonomian. Buruh pun juga tak kehilangan pekerjaan.

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini sejumlah serikat buruh dan federasi marak menggelar aksi menuntut upah minimun sebesar 50 persen pada 2014. Menurut massa aksi dan organisasi yang menaungi mereka, 60 item kebutuhan hidup layak (KHL) sudah tak sesuai, dan seharusnya ditambah menjadi 84 item KHL.

Massa aksi dan organisasi yang menuntut kenaikan upah minimum acap kali berdalih bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia dengan pendapatan domestik bruto terbesar ke-16.

Selain itu, pemerintah juga dituding melakukan kongkalikong dengan asosiasi pengusaha untuk melanggengkan kebijakan upah murah. Di sisi lain, pengusaha mengeluhkan kenaikan tarif dasar listrik serta adanya depresiasi nilai tukar rupiah atas dollar AS.

Sebagai informasi, Bank Dunia baru saja merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Timur-Pasifik. Diproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 mengalami perlambatan menjadi 5,6 persen, dari yang tadinya 6,2 persen pada 2012. Sementara itu, pada 2014 mendatang, pertumbuhan ekonomi kembali diprediksikan melambat menjadi 5,3 persen.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X