CEO AirAsia: Krisis Rupiah Hanya Kejadian Biasa di Kantor

Kompas.com - 10/10/2013, 08:23 WIB
CEO Group AirAsia Tony Fernandes (kiri) KOMPAS/HERU SRI KUMOROCEO Group AirAsia Tony Fernandes (kiri)
EditorBambang Priyo Jatmiko

NUSA DUA, KOMPAS.com - Konektivitas adalah salah satu poin yang dibahas dalam pertemuan APEC kali ini. Bagi Chief Executive Officer AirAsia Tony Fernandes, yang berfokus di ASEAN, konektivitas tidak hanya terbatas tentang open sky, tetapi juga lebih jauh lagi.

Pemerintahan dan birokrasi perlu terkoneksi juga. Daripada memiliki 10 sistem air traffic control, lebih baik hanya ada satu air traffic control.

Akan sangat baik jika ada lisensi bersama dan standardisasi. Soal finansial, kita juga tidak terkoneksi. Ada aneka pasar modal. Seharusnya ASEAN menjadi satu pasar. China seharusnya bernegosiasi dengan ASEAN, India bernegosiasi dengan ASEAN. Di dalam ASEAN, Indonesia bernegosiasi dengan Malaysia, Singapura, dan Filipina.

”Kita kehilangan banyak waktu. Saya berharap pemerintahan di ASEAN dapat sedikit lebih percaya satu sama lain,” kata Tony di Nusa Dua, Bali, Selasa (8/10). Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana peta kompetisi?

Saya rasa quantitative easing ke-3, atau apalah namanya, merupakan pelajaran yang baik untuk ASEAN. ASEAN harus belajar ketika ringgit, rupiah, kolaps. Seharusnya kita jangan bergantung pada pasar lain. Kita harus menciptakan pasar kita sendiri, membiayai pasar kita. Pasar kita jangan bergantung pada orang lain. Pasar saham berubah arah hanya satu malam karena satu orang karena satu pernyataan. Mengenai kompetisi, China itu satu pasar, tetapi ASEAN adalah 10 pasar dengan 10 peraturan. Banyak borosnya.

Permintaan saat ini?

Permintaan? Tidak ada masalah. Kami pernah mengalami kenaikan harga hingga 140 dollar AS per barrel. Krisis rupiah hanya kejadian biasa di kantor. Saya sudah melalui berbagai macam kejadian. Saya sudah mematok tingkat suku bunga. Saya adalah orang konvensional, tidak percaya spekulasi. Saya sudah lindung nilai utang saya. Sejarah menyatakan, kita tidak pernah tahu kapan titik terendah atau tertinggi kurs ringgit. Itu risiko bisnis.

Cara menjaga permintaan?

Saat saya mengurus bisnis musik pada tahun 1999, gejolak nilai tukar lebih parah lagi. Konsumsi di negara ini benar-benar besar. Krisis mungkin memengaruhi sedikit, tetapi konsumen masih tetap memiliki daya beli. Tidak ada penurunan permintaan, kita menciptakan permintaan dengan cara lain.

Bagaimana jalur Bandung?

Fantastis. Jika saya ditanya apa best moment saya, Bandung adalah jawabannya. Semua orang menertawai saya ketika membuka Bandung. Tidak ada orang yang terbang dari Bandung. Di sana ada 5 juta orang, ada universitas besar. Bandung kini sukses dan saya balik menertawai orang tadi.

Pasar penerbangan jenuh?

Wah, tentu tidak. Pasar terus bertambah. Banyak tempat menarik untuk dikunjungi di Indonesia. Namun, banyak hambatan infrastruktur. seperti bandara. (Joice Tauris Santi)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.