Indonesia Dorong Keamanan Pangan

Kompas.com - 11/10/2013, 08:24 WIB

Perumahan baru di tengah areal persawahan di Kecamatan Karawang Barat, Karawang, Jawa Barat, Jumat (20/7/2012). Pengembangan kawasan industri dan perumahan berpengaruh terhadap pengurangan lahan pangan dan kondisi masyarakat.   
 Kompas/Agus Susanto (AGS) Perumahan baru di tengah areal persawahan di Kecamatan Karawang Barat, Karawang, Jawa Barat, Jumat (20/7/2012). Pengembangan kawasan industri dan perumahan berpengaruh terhadap pengurangan lahan pangan dan kondisi masyarakat.
EditorBambang Priyo Jatmiko

BANDAR SERI BAGWAN, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pentingnya menjaga ketahanan pangan di kawasan Asia Timur. Oleh karena itu, perlu dikembangkan kerja sama pangan yang lebih intensif di antara negara-negara di kawasan tersebut.

”Total populasi penduduk Asia Timur mencapai 3,8 miliar orang dan trennya kelas menengah terus bertambah. Maka, isu produksi dan penyediaan stok pangan sekaligus penelitian dan pemanfaatan teknologi pangan secara bersama-sama tadi tampak menjadi semangat para pemimpin,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah, Kamis (10/10/2013), di Bandar Seri Begawan, Brunei.

Wartawan Kompas A Tomy Trinugroho melaporkan, isu ketahanan pangan disampaikan Presiden dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur yang diikuti 18 negara. KTT Asia Timur dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah, Raja Brunei, kemarin.

Menurut Firmanzah, dari sisi produksi pangan, ada negara yang surplus pangan, tetapi ada pula negara yang defisit pangan. Disampaikan bahwa perlu diupayakan sistem informasi dan sistem pasokan sehingga mobilitas pangan dari negara yang surplus ke negara yang defisit berlangsung lancar.

Presiden juga membawa isu konektivitas. Disebutkan bahwa Asia Timur harus mampu memperkuat basis ekonomi regional. ”Kuncinya adalah konektivitas manusia dan infrastruktur,” ujar Firmanzah.

Dalam KTT ASEAN+3 (Jepang, Korea Selatan, dan China), Presiden menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama yang terjalin antara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan ketiga negara tersebut dalam kerangka Prakarsa Chiang Mai.

”Lewat Prakarsa Chiang Mai, negara ASEAN terbantu dalam menghadapi gejolak pasar keuangan dunia,” ujar Firmanzah.
Pertukaran devisa

Prakarsa Chiang Mai adalah kerja sama antara negara ASEAN dan ketiga mitra dengan membentuk pertukaran devisa (currency swap). Dalam situasi mendesak, masing-masing negara bisa menukarkan devisa untuk memperkuat cadangan devisa. Inisiatif ini bertujuan mencegah kawasan mengalami krisis moneter seperti pada 1997.

Presiden juga menyampaikan bahwa terdapat ruang besar bagi peningkatan nilai perdagangan antara ASEAN dan ketiga mitra. ”Kerangka kerja sama untuk meningkatkan perdagangan dan investasi mendapat sambutan dari pemimpin lain,” kata Firmanzah.

Dua KTT lain yang digelar adalah KTT ASEAN+India dan KTT ASEAN+PBB. Dalam pembukaan, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyatakan bahwa ASEAN dan PBB memiliki tantangan yang mirip, yakni bagaimana menyusun agenda setelah tahun 2015.

PBB harus menentukan agenda setelah Tujuan Pembangunan Milenium, sedangkan ASEAN menyusun agenda setelah penerapan Masyarakat ASEAN.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X