Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/10/2013, 07:23 WIB
EditorErlangga Djumena

Menyembuhkan defisit neraca perdagangan dengan cara mengurangi impor akan membuat perekonomian kita melemah. Investasi dan permintaan domestik turun sehingga pertumbuhan ekonomi juga terkoreksi. Tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,6 persen dan tahun depan sedikit membaik, 5,8 persen. Bahkan, Bank Dunia hanya berani menaksir 5,3 persen untuk tahun 2014. Argumennya, segala kebijakan yang diterapkan pemerintah dan BI dalam rangka mengatasi gejolak perekonomian menimbulkan efek samping pelambatan ekonomi di tahun depan.

Idealnya, mengatasi defisit perdagangan dengan cara mendorong ekspor. Syaratnya, secara konsisten memperbaiki produktivitas dan daya saing dengan cara meningkatkan pasokan infrastruktur, termasuk energi. Bagaimana mungkin kita bersaing jika persoalan listrik saja tak teratasi dengan baik. Lebih ironis lagi, persoalan listrik sebenarnya telah menyedot subsidi cukup besar.

Tahun 2004, subsidi listrik sekitar Rp 3,4 triliun, naik menjadi Rp 46 triliun tahun 2009 dan tahun 2013 menjadi Rp 80 triliun. Subsidi yang tidak maksimal menimbulkan dampak negatif berganda pada perekonomian. Pertama, kenaikan subsidi akan menutup peluang anggaran membiayai hal lain. Kedua, subsidi mengerdilkan produktivitas sehingga menurunkan daya saing.

Krisis energi bisa menjadi simtom terjadinya krisis daya saing yang menimbulkan komplikasi pada perekonomian domestik dalam menghadapi dinamika global. Pemerintah dan otoritas moneter seakan hanya memiliki pilihan kebijakan sangat terbatas menghadapi gejolak perekonomian, seperti menaikkan BI Rate, memperlambat kredit, dan menaikkan pajak.

Padahal, inti persoalannya terletak pada produktivitas dan daya saing yang begitu rapuh. Kita terlalu lama tak menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, seperti menyediakan daya listrik sampai ke daerah, sehingga selalu takut menghadapi ujian. Semoga ujian pada perekonomian kita kali ini tidak begitu berat sehingga meski kemampuan pas-pasan, kita tetap bisa lulus dengan baik. (A Prasetyantoko, Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+