BI Rate Naik, Ekonom: Bank Indonesia Berlebihan

Kompas.com - 12/11/2013, 20:29 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Langkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis points (bps) dinilai keliru.

Guru Besar Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Tony A. Prasetiantono mengatakan, kebijakan ini tidak terlalu mendesak untuk dilakukan lantaran tingkat inflasi sudah mulai kembali normal.

"Saya cukup kaget dengan kenaikan BI rate kali ini, yang mestinya tidak terlalu mendesak dilakukan karena inflasi mulai jinak. Mestinya sudah cukup, kecuali inflasinya meningkat dengan hebat misalnya diatas 9 persen," kata Tony, Selasa (12/11).

Sesuai data Bank Indonesia, inflasi hingga akhir Oktober 2013 mencapai 8,32%. Tingkat inflasi ini diproyeksikan akan dibawah 9 persen hingga akhir tahun ini. Jadi menurut Tony, kebijakan yang efektif dilakukan BI adalah membiarkan nilai tukar rupiah melemah, sehingga akan mendorong ekspor, menurunkan impor, dan menekan defisit jasa.

Tidak akan mengurangi CAD

Tony mengatakan, kebijakan menaikkan suku bunga ini tidak akan mengurangi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), tetapi justru akan memukul perekonomian nasional secara luas. Meski kenaikan BI rate dinilai akan berdampak positif bagi pergerakan nilai tukar rupiah karena berkesempatan menguat, namun hal ini justru akan memukul daya saing produk Indonesia.

Dampaknya, kinerja ekspor akan kembali tertekan. Dengan pelemahan ekspor ditengah impor migas yang tinggi, defisit perdagangan akan membengkak. "Akibatnya defisit transaksi berjalan justru akan cenderung stagnan atau malah membesar, bukan membaik seperti yang diklaim oleh BI," jelas Tony.

Kenaikan suku bunga acuan ini akan menghambat ekspansi perbankan dalam menyalurkan kreditnya. Perlambatan kredit di sektor industri keuangan ini akan berdampak tidak langsung terhadap upaya penurunan defisit transaksi berjalan.

Akan tetapi, perlambatan kredit juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Perlambatan ekonomi ini justru akan menyulitkan upaya penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

"Jadi kalau mau mengurangi defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit, mestinya BI rate ditahan tetap atau malah diturunkan. Kebalikan dari yang sekarang dilakukan BI," kata Tony.

Halaman:
Sumber Kontan


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.