Bandara Soekarno-Hatta Rentan

Kompas.com - 18/11/2013, 07:01 WIB
Bandara Internasional Soekarno-Hatta TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Bandara Internasional Soekarno-Hatta
EditorErlangga Djumena

Seorang pilot memang dapat memutuskan untuk mengalihkan pendaratan ke bandara alternatif ketika dia melihat bahan bakar makin menipis.

Secara teknis sudah ditetapkan regulasi untuk menjamin keselamatan penerbangan, tetapi para pilot mengakui kepadatan landasan pacu jelas memicu stres. ”Naik mobil terjebak kemacetan saja stres, apalagi ketika macet saat terbang,” ungkap seorang pilot lainnya.

Menurut Imron, potensi stres tidak hanya pada pilot, tetapi juga pada petugas ATC.

Masalah lainnya adalah saat keberangkatan. Praktik yang biasa terjadi, pilot dari beberapa maskapai berlomba-lomba meminta ATC untuk memberangkatkan mereka terlebih dulu. Jadi, sebelum pintu pesawat ditutup, ada pilot yang sudah mengonfirmasikan kepada petugas mobil pendorong mundur supaya bersiap mendorong mundur pesawat. Para pilot berlomba-lomba menuju alur pemberangkatan supaya tidak antre terlalu lama.

Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air, mengatakan, akibat seringnya pesawat menunggu antre di tepi landasan atau di udara, konsumsi bahan bakar meningkat. Peningkatan bahan bakar ini cukup signifikan. Untuk penerbangan jarak pendek dengan waktu tempuh sekitar satu jam, misalnya, diperlukan tambahan bahan bakar 25 persen, sedangkan untuk jarak tempuh sekitar tiga jam, dibutuhkan tambahan bahan bakar 8 persen.

Menurut Edward, kepadatan bandara ini sangat terasa mulai tahun 2013. Rata-rata penambahan waktu untuk antre, baik di darat maupun di udara, mencapai 15 menit. ”Kami berharap masalah ini bisa segera diatasi. Kondisi ini tentu membuat produktivitas maskapai penerbangan menurun. Pilot dan penumpang pun akan stres,” ujar Edward.

Ikhsan mengatakan, kepadatan di landasan pacu itu membuat waktu terbang lebih lama. Hal ini memengaruhi jadwal penerbangan yang terkoneksi dan juga jam kerja kru.

Kepadatan tersebut terjadi lantaran seiring berkembangnya bisnis penerbangan dan bertambahnya jumlah armada setiap maskapai.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri Sunoko ketika dikonfirmasi mengakui, kapasitas Bandara Soekarno-Hatta sudah tidak mampu lagi menerima permintaan layanan penerbangan lebih banyak lagi. Dua landasan yang dimiliki Bandara Soekarno-Hatta sudah dimaksimalkan hingga melayani 1.215 kali lepas landas dan pendaratan pesawat setiap harinya.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay mengatakan, akibat begitu padatnya penerbangan di bandara utama Indonesia ini, jatah cadangan untuk darurat hanya tersisa 10 persen. Padahal, idealnya, slot cadangan darurat minimal 20 persen. (ARN/RYO/HAM/MAR)

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X