Kompas.com - 19/11/2013, 07:38 WIB
EditorErlangga Djumena


KOMPAS.com -
Frasa kelas menengah cukup populer di semua kalangan di Indonesia. Pemerintah, kalangan pebisnis, hingga masyarakat menggunakan frasa itu dengan berbagai tujuan masing-masing.

Di dunia internet, misalnya, sebuah mesin pencari menemukan 2,8 juta untuk frasa itu dan 2 juta untuk frasa kelas menengah indonesia kurang dari setengah detik, Jumat (15/11/2013), pukul 17.00. Di media sosial, perang gagasan soal kelas menengah diperbincangkan dari perilaku sebagian orang saat berkendara hingga kemungkinan pilihan politik pada Pemilihan Umum 2014.

Di kalangan pebisnis, mulai lokal hingga multinasional, kelas menengah merupakan magnet bagi kata dan atau frasa lain yang mengikuti, mulai dari peluang, pertumbuhan, profit atau keuntungan, hingga uang. Tanyakan saja kepada bos-bos Lafayette dan H&M apa alasan dan siapa yang mereka tuju saat membuka gerai mereka di sentra Jakarta tahun ini.

Frasa itu pula yang disebut manajemen PT Astra International Tbk sehingga korporasi itu ingin menggeber unit properti dan menggarap asuransi jiwa di Indonesia mulai tahun depan. Ya, frasa-frasa itu seputar pertumbuhan kelas menengah di negeri ini.

Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporan bertajuk ”Key Indicator for Asia and The Pacific 2010” membagi kelas menengah dalam tiga kelompok berdasarkan biaya pengeluaran per kapita per hari. Pertama, kelas menengah dengan pengeluaran 2-4 dollar AS per kapita per hari. Kedua, kelompok dengan pengeluaran 4-10 dollar AS per kapita per hari. Ketiga, kelompok dengan pengeluaran 10-20 dollar AS per kapita per hari.

Jumlah masyarakat Indonesia yang termasuk dalam klasifikasi itu pun meningkat di negeri ini. Berdasarkan data Bank Dunia, tahun 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya sekitar 37,7 persen. Namun, pada tahun 2010, jumlah itu meningkat menjadi di kisaran 56,6 persen, mencapai 134 juta jiwa.

Yang terbaru, Bank Indonesia (BI) menyatakan Indonesia telah mantap berada pada posisi negara berpendapatan menengah dan bertransisi dari pendapatan menengah bawah menuju pendapatan menengah atas. Ekspansi kelas menengah dalam satu dekade terakhir akan berlanjut dan pasar domestik terus membesar. Patut dicatat peringatan BI yang melihat keberadaan kelas menengah ini dalam proses mengurai kelemahan struktural. Hal itu berpotensi mengganggu upaya mendorong ekonomi ke tingkat lebih tinggi.

Jebakan kelas menengah di depan mata. Sebuah situasi ekonomi yang mandek setelah sukses mencetak pertumbuhan pesat. Saat ekonomi cenderung melambat, peningkatan standar hidup ikut berhenti di saat warga pada umumnya belum mencapai tingkat kemakmuran seperti yang dinikmati warga di negara-negara maju.

Otoritas BI melihat ekspansi kelas menengah ditandai struktur permintaan barang dan jasa yang semakin beragam dengan karakteristik semakin kompleks. Namun, di tengah perubahan struktur permintaan agregat tersebut, ekspansi perekonomian dirasakan terlalu cepat dan rentan terhadap koreksi. Laju pertumbuhan ekonomi ke lintasan yang lebih tinggi menjadi tertahan.

Kendala pada laju pertumbuhan ekonomi itu merupakan gambaran ketidakseimbangan antara struktur permintaan agregat dan kapabilitas di sisi penawaran. Dari sisi penawaran, struktur produksi yang terbentuk dalam satu dekade terakhir lambat laun terasa semakin ketinggalan zaman (obsolete), yakni industri dengan warisan sumber daya alam dan surplus tenaga kerja sebagai modal dasar pembangunan.

Ciri masyarakat kelas menengah adalah ingin dan mampu membeli barang dengan kualitas dan nilai tambah yang semakin tinggi. Dengan meningkatnya kompleksitas barang yang diminta, dibutuhkan basis keunggulan dan kapabilitas industrial yang meningkat.

Di situ diperlukan infrastruktur konektivitas, baik digital maupun fisik. Aspek manajemen energi pun menuntut perbaikan. Iklim usaha termasuk mengenai kemudahan memulai usaha, kepastian hukum, hingga registrasi hak milik menuntut waktu.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 menjadi uji atas tolok ukur terdekat kemampuan transisi kemantapan Indonesia dalam posisi negara berpendapatan menengah. Mari menjawab dengan kerja keras atas pertanyaan menantang Gubernur BI Agus DW Martowardojo, ”Mampukah kita memanfaatkan MEA dan menjadi bagian dari rantai nilai global, atau hanya akan menjadi target pasar?” (Benny D Koestanto)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Syarat dan Cara Mengajukan Pinjaman BCA Tanpa Agunan

Syarat dan Cara Mengajukan Pinjaman BCA Tanpa Agunan

Whats New
Syarat dan Cara Mengajukan Kartu Kredit Mandiri lewat HP

Syarat dan Cara Mengajukan Kartu Kredit Mandiri lewat HP

Whats New
Segini Biaya Admin BRI yang Memicu Nasabah Robek Buku Tabungan hingga Viral

Segini Biaya Admin BRI yang Memicu Nasabah Robek Buku Tabungan hingga Viral

Whats New
Para Pemilik Holywings, Club Malam yang Promosinya Menuai Kontroversi

Para Pemilik Holywings, Club Malam yang Promosinya Menuai Kontroversi

Whats New
Cek Besaran Gaji Ke-13 PNS yang akan Cair Mulai 1 Juli 2022

Cek Besaran Gaji Ke-13 PNS yang akan Cair Mulai 1 Juli 2022

Whats New
Daftar PNS dan ASN yang Bakal Terima Gaji Ke-13 pada Juli 2022

Daftar PNS dan ASN yang Bakal Terima Gaji Ke-13 pada Juli 2022

Whats New
Apa Saja Akibatnya bila Seseorang Terkena Sanksi BI Checking?

Apa Saja Akibatnya bila Seseorang Terkena Sanksi BI Checking?

Spend Smart
Erick Thohir Perintahkan KAI 'Blacklist' Pelaku Pelecehan Seksual di KA dan Segera Proses Sanksi Hukumnya

Erick Thohir Perintahkan KAI "Blacklist" Pelaku Pelecehan Seksual di KA dan Segera Proses Sanksi Hukumnya

Whats New
Jembatan Gantung Kaca Pertama di Indonesia Ditargetkan Rampung September Mendatang

Jembatan Gantung Kaca Pertama di Indonesia Ditargetkan Rampung September Mendatang

Whats New
Ini Cara Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi

Ini Cara Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi

Whats New
Suguhkan Pencak Silat, Shopee Java in Paris Tuai Antusiasme Tinggi

Suguhkan Pencak Silat, Shopee Java in Paris Tuai Antusiasme Tinggi

Whats New
Pasar Persaingan Sempurna: Pengertian, Contoh, dan Ciri-cirinya

Pasar Persaingan Sempurna: Pengertian, Contoh, dan Ciri-cirinya

Spend Smart
Mudah, Begini Cara Transfer GoPay ke OVO dan Sebaliknya

Mudah, Begini Cara Transfer GoPay ke OVO dan Sebaliknya

Whats New
Seputar Tanah HGB, Pahami Aturan dan Jangka Waktu Hak Guna Bangunan

Seputar Tanah HGB, Pahami Aturan dan Jangka Waktu Hak Guna Bangunan

Earn Smart
Carsome Luncurkan Lembaga Pelatihan Carsome Academy dan Beri Beasiswa, Seperti Apa?

Carsome Luncurkan Lembaga Pelatihan Carsome Academy dan Beri Beasiswa, Seperti Apa?

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.