Kompas.com - 22/11/2013, 21:35 WIB
Petani kopi arabika gayo di Desa Jamur Uluh, Kecamatan Wih Peusang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sedang memilah biji kopi yang rusak di bak penjemuran kopi, Sabtu (10/3/2013). KOMPAS/MOHAMAD BURHANUDINPetani kopi arabika gayo di Desa Jamur Uluh, Kecamatan Wih Peusang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sedang memilah biji kopi yang rusak di bak penjemuran kopi, Sabtu (10/3/2013).
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun depan, Lembaga Penjaminan Ekspor Indonesia (LPEI) akan lebih memperhatikan bisnis yang selama ini belum menjadi anak emas. Misalnya, bisnis tanaman pertanian dan usaha kecil menengah (UKM) khusus ekspor.

Perusahaan pembiayaan yang dulu bernama Indonesia Eximbank ini berencana menggenjot pembiayaan ke komoditas kopi. Disadari betul, kopi tak lagi hanya kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia.

I Made Gde Erata, Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) LPEI sangat berharap tahun depan pembiayaan di industri kopi kian meningkat. "Tahun ini jumlah pembiayaan kopi hanya Rp 800 miliar," katanya, Kamis (21/11/2013). Dia berharap, tahun depan LPEI bisa membiayai bisnis ekspor kopi hingga Rp 1 triliun.

Bisnis kopi termasuk kategori bisnis pertanian dan tanaman perkebunan. Sekitar 4,8% pembiayaan LPEI mengucur ke sektor ini. Hingga 19 November lalu, LPEI mencatat sudah mengucurkan pembiayaan sekitar Rp 37 triliun, tumbuh 34% dibandingkan tahun lalu.

Sektor industri terbesar yang dibiayai selama ini adalah tekstil, dengan porsi hampir 10%, diikuti perkebunan dan hasil kelapa sawit. "Tahun ini target sudah terpenuhi, saatnya menunggu persetujuan dari pemerintah untuk pendanaan tahun depan," paparnya.

Tak hanya menggenjot komoditas, tahun depan LPEI juga meningkatkan pembiayaan usaha kecil menengah (UKM) yang berorientasi ekspor. Hingga akhir Oktober lalu nilai pembiayaan yang mengucur ke segmen ini mencapai Rp 2,7 triliun.

Porsi pembiayaan UKM masih mini, sekitar 7,3% dari total pembiayaan perusahaan. Manajemen menargetkan, tahun depan perusahaan bisa mengucurkan 10% pembiayaannya pada sektor kecil ini.

Meski menggenjot bisnis ini, manajemen LPEI berjanji tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Alasannya, jumlah debitur UKM yang kreditnya bermasalah terus bertambah. "Tapi karena nilai pembiayaan pada UKM kecil, sejauh ini tak terlalu mempengaruhi rasio kredit macet keseluruhan," kata Made Erata beberapa waktu lalu.

Rasio non-performing loan (NPL) LPEI hingga Oktober lalu sebesar 1,15%, lebih baik dibandingkan ketika di awal tahun, yang sebesar 1,19%. Tak menetapkan target baru, LPEI yakin pembiayaan terus tumbuh di atas Rp 37 triliun. "Aset yang kita miliki hingga 19 November sekitar Rp 45 triliun," kata Erata. (Yuliani Maimuntarsih)



Sumber Kontan
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X