Swasembada Gula di Jateng Terancam Sejumlah Kendala

Kompas.com - 10/12/2013, 13:11 WIB
Ilustrasi pabrik gula KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDIIlustrasi pabrik gula
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

SEMARANG, KOMPAS.com - Target swasembada gula pada tahun 2014 mendatang dapat terancam, karena berbagai kendala yang dihadapi industri tebu dan produksi gula.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono mengatakan saat ini terdapat berbagai kendala yang dihadapi industri untuk mencapai swasembada gula di Jawa Tengah.

"Kendala saat ini adalah budidaya tebu sebagai bahan baku gula ini masih sangat fluktuatif, dikarenakan lahan yang berkurang akibat alih fungsi maupun pindah ke tanaman lain," kata Sri di Agrowisata Banaran, Semarang.

Selain permasalahan lahan, Sri menyatakan profesi petani tebu pun menjadi kendala. Saat ini profesi petani tebu mengalami penurunan lantaran terganjal harga jual tebu yang tidak menarik.

Selain itu, pabrik gula menurutnya saat ini belum beroperasi secara optimal. Terakhir, serbuan gula rafinasi impor ke Indonesia juga menjadi ancaman terwujudnya swasembada gula.

"Dari sini saya berpikir swasembada saja sepertinya tidak cukup. Kita juga harus berdaulat di bidang pangan. Termasuk berdaulat dalam memenuhi kebutuhan gula di Jawa Tengah," ujar Sri.

Oleh sebab itu, lanjut dia, produksi gula di Jawa Tengah harus ditingkatkan. Solusinya tentu saja bukan hanya pada pola budidaya yang harus diberdayakan, tetapi secara terpadu dari hulu ke hilir semuanya dibenahi.

"Petani tebu hendaknya diberi pengarahan dan pembinaan terkait upaya-upaya peningkatan produksi tebu yang baik. Petani juga perlu diberikan pemahaman bahwa berdasarkan hasil analisis usaha perkebunan tebu juga memperoleh keuntungan dan penghasilan bersih secara signifikan," kata Sri.

Selain itu, pabrik-pabrik juga diperlukan perbaikan dan pengembangan agar dapat menghasilkan produk yang baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Sebab, pabrik-pabrik gula yang ada saat ini kebanyakan merupakan peninggalan Belanda.

"Kita juga masih memerlukan pabrik-pabrik gula baru. Pabrik yang ada saat ini adalah peninggalan kolonialisme dan terbatas produksinya," kata Sri.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X