Bank Dunia Prediksi Tahun 2014 Pertumbuhan Indonesia Melambat

Kompas.com - 16/12/2013, 11:51 WIB
Suasana pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/4/2013).BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III di level 5,62 persen KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNASuasana pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/4/2013).BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III di level 5,62 persen
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 melambat dengan penurunan menjadi 5,3 persen, dari level 5,6 persen di 2013. Salah satu alasan prediksi itu adalah penurunan investasi.

Bank Dunia memandang pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah guna perkuat stabilitas makro jangka pendek, terutama melalui penyesuaian kebijakan moneter dan nilai tukar rupiah. Akan tetapi, untuk meningkatkan perdagangan dan merangsang laju pertumbuhan jangka panjang, perlu reformasi struktural yang lebih luas.

"Indonesia telah melewati tahun penuh tantangan dengan jatuhnya permintaan ekspor dan harga komoditas, selain juga pasar modal yang bergejolak dan sulitnya memperoleh dana eksternal. Kebijakan moneter telah mendukung penyesuaian ekonomi," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chavez di Jakarta, Senin (16/12/2013).

Lebih lanjut, Chavez mengatakan, Indonesia akan menerima manfaat bila pemerintah fokus pada investasi yang bersifat jangka panjang, karena Indonesia perlu lebih banyak investasi. "Kebijakan moneter sebaiknya tidak merupakan tanggapan yang dominan," ujar dia.

Selain memprediksi penurunan pertumbuhan, Bank Dunia memprediksi defisit neraca transaksi berjalan akan menyusut dari 31 miliar dollar AS atau 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) menjadi 23 miliar dollar AS atau 2,6 persen dari PDB. Ini akibat lemahnya pertumbuhan impor dan permintaan ekspor yang meningkat secara moderat.

Terkait menyikapi defisit neraca transaksi berjalan, yang perlu dilakukan bukanlah menekan tingkat impor, namun dengan meningkatkan ekspor dan mengamankan ketersediaan dana eksternal, terutama investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

"Langkah-langkah perbaikan terhadap iklim usaha sangat penting untuk menarik investasi. Membuat peraturan perdagangan dan logistik lebih sederhana juga dapat membantu mendongkrak ekspor," kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop pada kesempatan yang sama.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X