Apakah "Resign" Massal di Pelindo 2 untuk Melawan Perubahan?

Kompas.com - 23/12/2013, 06:45 WIB
Kapal pengangkut barang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II, Rabu (21/12/2011). KOMPAS/HERU SRI KUMOROKapal pengangkut barang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II, Rabu (21/12/2011).
EditorBambang Priyo Jatmiko

Jadi, integritas dapat dilihat dari kegigihannya menegakkan aturan, dari ada tidaknya bukti-bukti pelanggaran hukum (bukan desas-desus). Dan, integritas hampir pasti berhubungan dengan hasil (end result) yang dicapai.

Sampai di sini saya bisa mengatakan perubahan di PT Pelindo 2 itu riil, setidaknya sama kencangnya dengan yang terjadi di Garuda Indonesia dan PT KAI. Namun, seperti juga RJ Lino (CEO Pelindo 2) yang kini menghadapi ujian dari serikat pekerja dan sebagian kecil jajarannya, Emirsyah Satar dan Ignatius Jonan juga mengalami hal serupa.

Bila ancaman mogok dari SP di Pelindo baru wacana, di Garuda Indonesia mogok kebetulan itu sudah pernah terjadi. Emirsyah Satar pun dituding arogan. Anda mungkin masih ingat saat pilot-pilot yang tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda (APG) melawan.

Dan, terlepas dari kemajuan di PT KAI, saya kira Anda juga tahu banyak mahasiswa UI yang tak menyukai Jonan saat ia menggusur pedagang asongan dari stasiun kereta api. Bahkan, tak banyak penumpang yang senang saat disemprot tinta hitam karena menumpang di atap kereta.

Saya bisa bercerita banyak tentang hal ini, tetapi saya kira penting bagi kita untuk melihat progres yang dicapai di ketiga BUMN itu: servis mereka membaik, GCG juga membaik, regenerasi bergerak cepat, pendapatan (gaji) karyawan meningkat tajam, kepuasan stakeholder meningkat, investasi-investasi baru (belanja modal, capex) terealisasi dengan progresif.

Saya sependapat dengan banyak komentar yang menyayangkan terjadinya resign massal. Padahal, sebagian dari mereka sudah disekolahkan di luar negeri. Tak terbayangkan oleh saya berapa besar ganti rugi yang harus dikembalikan dan hilang kesempatan untuk ikut dalam pesta besar perubahan yang menggetarkan jiwa ini.

Perubahan itu memang pahit dan mengusik rasa nyaman kita. Mengusik solidaritas, membuat yang perasaan “teraniaya”. Tetapi, the show must go on dan harus ada orang yang rela berkorban dan rela tidak populer.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ayo bangun rasa percaya diri dan kehormatan, bukan solidaritas yang lembek dan lempar batu sembunyi tangan. Yang berani itu tidak akan bertahan dengan kekuatan massa, melainkan kekuatan pribadi dengan pikiran dan fakta. Hadapi saja perubahan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.