Infrastruktur Pendukung Transportasi Mendesak Dibangun

Kompas.com - 15/01/2014, 21:05 WIB
Proyek tol akses ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta yang belum selesai pengerjaannya, Jumat (31/5/2013). Pembangunan tol tersebut menyebabkan tersendatnya arus kendaraan. Kemacetan juga berdampak pada penurunan arus keluar masuk truk di Pelabuhan, dari rata-rata sebanyak 320 truk/jam menjadi hanya 280 truk/jam.

KOMPAS/HERU SRI KUMOROProyek tol akses ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta yang belum selesai pengerjaannya, Jumat (31/5/2013). Pembangunan tol tersebut menyebabkan tersendatnya arus kendaraan. Kemacetan juga berdampak pada penurunan arus keluar masuk truk di Pelabuhan, dari rata-rata sebanyak 320 truk/jam menjadi hanya 280 truk/jam.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Infrastruktur yang terkait dengan transportasi dan pengiriman barang menjadi sesuatu yang krusial untuk diperbaiki saat ini.

Ekonom Bank CIMB Niaga Winang Budoyo mengatakan saat ini ekonomi Indonesia tidak efisien karena biaya yang harus ditanggung untuk pengiriman barang cukup mahal.

"Pembangunan infrastruktur saat ini harus lebih banyak fokus untuk shipping, karena memang tidak efisien. Biaya shipping ke Surabaya lebih mahal dibandingkan ke Singapura," keluhnya, Rabu (15/1/2014).

Pembangunan infrastruktur utama tidak boleh ditunda, lantaran berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Berbagai kebijakan terkait proyek infrastruktur telah ada, sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk dieksekusi.

"Bila proyek infrastruktur dapat segera diimplementasikan, maka PDB Indonesia dapat menembus 6 persen. Ini saatnya mengimplementasikan proyek-proyek itu," kata Winang pada acara "Indonesia Summit: What Indonesia Needs Now," Rabu (15/1/2014).

Pada kesempatan yang sama, Managing Director Tusk Advisory Raj Kannan menjelaskan dalam pelaksanaan proyek infrastruktur, tidak hanya pemerintah yang dapat melaksanakan proyek tersebut.

Pihak swasta juga seharusnya dapat diikut sertakan dalam proyek melalui kemitraan publik swasta (public private partnership/PPP).

Lebih lanjut, Raj memandang masalah infrastruktur khususnya yang terkait untuk menopang transportasi dan distribusi di Indonesia sangatlah membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Proyek-proyek inilah yang harus diperbaiki.

"Coba saja, dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 8 hari. Sementara di Singapura hanya 1 hari. Di sektor bandara pun demikian. Bandara Soekarno Hatta menampung 55 juta penumpang, padahal kapasitas tampung hanya 22 juta penumpang. Ini sangat memprihatinkan," ujar Raj.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X