Syachrani, Maju dengan Kerupuk Amplang

Kompas.com - 18/01/2014, 21:20 WIB
Syachrani Kompas/Megandika Wicaksono Syachrani
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com -Syachrani (68), petugas juru bayar di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Korem 102/Panju Panjung, mengawali usaha kerupuk amplang ikan pipih (”Notopterus chitala”) pada 1986. Bersama istrinya, Saneah (66), dia belajar membuat kerupuk amplang pada Embuniwati, kakak Saneah. Waktu itu hidup pas-pasan dan kami mulai belajar memasak kerupuk amplang yang dijual di kios kelontong dan kios rokok untuk menambah penghasilan. Harga sebungkus kerupuk hanya Rp 25,” kata Syachrani yang terus menekuni usaha pembuatan kerupuk amplang setelah pensiun pada 2002.

Pada tahun-tahun awal membuat kerupuk amplang, Syachrani bersama istri sering kali gagal karena kerupuk mudah melempem dan juga kadang kala terlalu banyak minyak sehingga terlalu basah. Meskipun demikian, dia tetap mencoba hingga berhasil menemukan takaran yang pas untuk membuat kerupuk amplang yang renyah.

”Sekitar tahun 1990, kami mulai menjual kerupuk di sejumlah toko swalayan. Saat ini ada 12 toko swalayan yang menjual kerupuk kami,” kata Syachrani yang memiliki lima cucu dan tiga buyut dari kedua putrinya, Senin (13/1/2014). Dari usaha menjual kerupuk amplang ini mereka mampu menunaikan ibadah haji.

Syachrani pun mengikuti pelatihan dan bimbingan yang difasilitasi sejumlah instansi pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat kerupuk amplang. Dia pernah mengikuti pelatihan Penyuluhan Keamanan Pangan Industri Rumah Tangga Pangan yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya pada 26-27 Mei 2005 serta mengikuti Bimbingan Teknis Piagam Bintang Satu Keamanan Pangan yang diselenggarakan Balai Pengawas Obat dan Makanan RI di Palangkaraya pada 2005 dan 2006.

Selain itu, Syachrani juga menjadi juara I pada Seleksi dan Verifikasi UKM Pengolahan Tingkat Provinsi Kalteng pada 6 Desember 2008 yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalteng. ”Saya diberi hadiah alat pres kemasan,” katanya seraya menunjukkan piala penghargaan itu.

Syachrani membuat kerupuk amplang lima kali dalam sebulan. Setiap kali membuat kerupuk, dia biasa menghasilkan 130 bungkus kerupuk amplang yang masing-masing seberat 70 gram per bungkus. ”Tidak setiap hari kami membuat kerupuk, paling seminggu sekali sambil juga terus melihat persediaan di toko swalayan,” katanya. Produksi ini sengaja dibatasi untuk menjaga kualitas rasa kerupuk amplang buatannya.

Kerupuk amplang ikan pipih buatannya dijual Rp 11.000 per bungkus. ”Di toko-toko harga jualnya menjadi sekitar Rp 13.200 per bungkus. Harganya terus meningkat karena ikan pipih semakin mahal dan sulit dicari akibat sungai yang tercemar,” kata Syachrani.

Pada awal tahun 2000-an, Syachrani mengaku menjual kerupuk amplangnya hanya Rp 5.000 per bungkus. ”Pada waktu itu, harga ikan pipih masih Rp 20.000 per kg. Sekarang harganya sudah Rp 85.000 per kg,” katanya.

Ikan pipih dibelinya dari dua penjual ikan langganan di Pasar Besar, Palangkaraya. Karena ikan pipih yang hidup di sungai-sungai di Kalteng semakin sulit ditangkap, tidak setiap hari tersedia ikan pipih. ”Jika ada ikan pipih, kami ditelepon dan ikan akan diantar ke rumah,” ujar Syachrani.

Untuk membuat kerupuk amplang sebanyak 130 bungkus, dia memerlukan modal sekitar Rp 600.000 untuk membeli bahan-bahan, antara lain 7 kilogram (kg) tepung tapioka, 5,5 kg daging ikan pipih, 20 telur, 4 liter minyak goreng, bawang putih, dan penyedap rasa.

Selama ini Syachrani mengolah adonan, menggoreng, dan mendistribusikan kerupuk hanya berdua dengan istrinya. ”Kami menggunakan sepeda motor berkeliling kota mengantarkan kerupuk ke 12 toko di Palangkaraya,” ujarnya. Setiap toko menerima 10-20 bungkus kerupuk amplang ikan pipih buatannya. ”Kami tak bisa mengantar lebih banyak lagi mengingat usia,” katanya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X