Kompas.com - 11/02/2014, 14:41 WIB
Warga melintas di depan baliho dari calon legislatif beserta partai dan nomor urutnya di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (9/9). KPU menetapkan dalam kampanye Pemilu 2014, setiap parpol hanya boleh memasang satu baliho di setiap zona yang ditetapkan KPU daerah bersama pemerintah daerah. Calon anggota legislatifpun hanya bisa memasang satu spanduk di zona yang ditentukan. Kompas/Agus SusantoWarga melintas di depan baliho dari calon legislatif beserta partai dan nomor urutnya di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (9/9). KPU menetapkan dalam kampanye Pemilu 2014, setiap parpol hanya boleh memasang satu baliho di setiap zona yang ditetapkan KPU daerah bersama pemerintah daerah. Calon anggota legislatifpun hanya bisa memasang satu spanduk di zona yang ditentukan.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat politik Eep Saefulloh Fatah mengatakan, setiap terjadi pemilihan umum di Indonesia, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik sebesar 0,3 persen. Sumbangan terbesar pertumbuhan ekonomi adalah dari sektor konsumsi.

"Ada kenaikan dramatis dan sangat mudah dilacak. Lihat saja sablon, pembelian motor dan mobil, serta konsumsi energi. Semua aspek konsumsi memberi sumbangan penambahan pertumbuhan ekonomi," kata Eep di Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Perubahan kondisi ekonomi selama tahun politik, kata Eep, dapat dirasakan pada 3 bulan sebelum pemilu dan 3 bulan pasca pemilu. Pada periode 3 bulan sebelum pemilu, penanaman modal asing (PMA) menahan diri. Adapun keadaan berbalik pada masa 3 bulan pasca pemilu.

"Peningkatan persentase FDI (Foreign Direct Investment/PMA) meningkat pesat. Pemilu itu seperti masa menanti dan setelah pemilu itu masa memutuskan," ujar dia.

Pemilu tahun 2004 dan 2009 menghasilkan pemimpin yang bersahabat terhadap pasar dan investasi. Ini membuat Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi investor asing untuk menanamkan modalnya.

Eep merasa kondisi serupa akan terjadi pada pemilu tahun ini. "Tahun 2004 dan 2009 presidennya market dan investment friendly. Saya menduga keadaan akan berulang, kecuali misalnya presidennya kontroversial seperti misalnya presiden Hugo Chavez,"  kata Eep.

Eep mengatakan kekhawatiran terhadap pemilu seharusnya tak terjadi karena Indonesia cukup berpengalaman dalam pelaksanaan pemilu. "Kemampuan penyelenggaraan pemilu kita sangat baik. Tidak perlu cemas proses. Yang perlu dicemaskan adalah hasil," ungkapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X