Deputi Komisioner Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dumoly Freddy Pardede mengatakan, kondisi seperti ini kian mencekik masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Ini karena sebagian besar pembiayaan rumah dengan skema kredit pemilikan rumah (KPR) disalurkan oleh perbankan.
"Kalau bunga naik terus, masyarakat golongan menengah ke bawah menjadi sulit memiliki rumah. Padahal permintaan rumah untuk mereka itu sangat besar. Ini bisa menciptakan kemiskinan permanen," kata Dumoly di Jakarta, Rabu (12/2/2014).
Pada kesempatan sama, Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Raharjo Adisusanto mengatakan selama ini pihak perbankan dan penyalur KPR masih fokus pada masyarakat kalangan menengah ke atas. Dampaknya, hal sebaliknya terjadi pada masyarakat kalangan menengah ke bawah.
"Masyarakat menengah ke bawah belum tersentuh penyaluran KPR. Potensi ini yang seharusnya dibidik perbankan dan perusahaan pembiayaan ke depannya. Mereka sebaiknya menyalurkan KPR dalam jangka panjang," ujar Raharjo.
Raharjo memaparkan selama tahun 2013, SMF telah mengalirkan dana dari pasar modal ke penyalur KPR sebesar Rp 3,5 triliun. Rp 2,51 triliun dengan memfasilitasi sekuritisasi dan Rp 1,5 triliun penyaluran pinjaman.
"Kami menyesuaikan kemampuan debitor di saat bunga tinggi dengan memberi jangka waktu KPR yang lebih panjang, sampai 10 tahun dengan cicilan bunga tetap," jelasnya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.