Kenaikan Harga Tiket Pesawat Dikritik

Kompas.com - 24/02/2014, 09:57 WIB
Ilustrasi bandara KOMPAS/IWAN SETIYAWANIlustrasi bandara
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski kurs rupiah sudah menguat dan berada di bawah Rp 12.000-an per dollar AS, harga tiket pesawat tetap akan mengalami kenaikan per Maret 2014. Akan tetapi, efisiensi lalu lintas penerbangan lebih baik dilakukan untuk menekan kenaikan ongkos operasi pesawat.

Pengamat penerbangan Chappy Hakim di Jakarta, Sabtu (22/2/2014), mengatakan, industri penerbangan dihadapkan pada permasalahan yang lebih besar dari sekadar pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga avtur yang memengaruhi kondisi finansial maskapai.

Ia mencontohkan, penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sudah melebihi kapasitas. Infrastruktur bandara yang memadai juga belum merata di seluruh Indonesia. Ada pula permasalahan seperti kurangnya pilot yang dihasilkan sekolah penerbangan serta lalu lintas penerbangan yang berantakan.

”Yang perlu dilakukan adalah efisiensi lalu lintas penerbangan. Manajemen lalu lintas penerbangan kita kacau. Kepadatan lalu lintas mengakibatkan pemborosan bensin yang jauh lebih banyak dan merugikan maskapai,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan mengatakan, kebijakan kenaikan harga tiket sudah ada pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 2 Tahun 2014 tentang Besaran Biaya Tambahan Tarif Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Peraturan ini sekarang diproses.

Dia menambahkan, pemerintah akan memberlakukan evaluasi setelah tiga bulan peraturan itu dikeluarkan. ”Kurs rupiah bersifat fluktuatif. Tahun lalu, ketika kurs rupiah melemah, maskapai-maskapai penerbangan tidak menaikkan harga tiket dan akibatnya mereka mengalami kerugian operasional. Kalau sekarang harga tiket tidak naik, kerugian operasional maskapai akan semakin besar,” kata Bambang.

Kebijakan menaikkan harga tiket disebabkan oleh adanya biaya tambahan (surcharge). Biaya tambahan tersebut digunakan untuk menutupi kerugian biaya operasional akibat kenaikan harga avtur dan melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai di atas Rp 12.000 jelang akhir tahun 2013. Biaya operasional yang dimaksud antara lain perawatan pesawat, sewa pesawat, asuransi, suku cadang, dan gaji pilot yang bergantung pada dollar AS.

Tambahan biaya terbagi menjadi dua, yakni untuk pesawat jenis jet dan pesawat jenis baling-baling. Pesawat jet dengan jarak rute rata-rata 664 kilometer dikenai tambahan Rp 60.000 untuk jam pertama.

Manajer Hubungan Masyarakat Mandala Tiger Air Lucas Suryanata mengatakan akan menaikkan harga tiket sesuai aturan pemerintah. ”Sekarang kurs rupiah memang menguat, tetapi sesuai kebijakan pemerintah, kami akan tetap menaikkan harga. Jika tidak, kami akan mengalami kerugian yang semakin besar,” kata Lucas.

Pro kontra

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X