Kompas.com - 05/03/2014, 17:27 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

BIREUEN.KOMPAS.com — Tak mudah melakoni profesi ini, apalagi harus berjibaku dengan beratnya medan dalam hutan belantara. Berjalan puluhan kilometer selama berhari-hari hanya untuk mengejar Rp30.000 menjadi satu-satunya pilihan para pengumpul rotan di Desa Sampoe Ajad, Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Bermodalkan tubuh sehat dan kuat, para pencari rotan bertahan selama 10 hari menelusuri beratnya medan hutan. Untuk mengatasi ganasnya alam, mereka melengkapi diri dengan sepatu boot, parang, panci penanak nasi, serta beras dan minyak goreng. Pun, tak ada alas tidur yang memadai untuk bermalam di tengah hutan.

Para pengumpul rotan biasanya menghabiskan waktu hingga 12 jam untuk menempuh perjalanan 20 Km agar tiba di Pegunungan Peunceuk, kawasan Jeunib, yang dikenal banyak ditumbuhi rotan.

Biasanya, satu kelompok beranggotan tiga orang yang hanya mampu membawa pulang 50 kg rotan basah dalam satu kali berangkat. Kendati basah saat dipotong, dalam perjalanan pulang yang memakan waktu cukup lama juga akhirnya rotan-rota mengering dan beratnya susut.

“Setelah tiba di kampung, berat rotan yang tersisa berkisar antara 15-20 kg padahal tadinya 50 kilogram di hutan,” kata Ali Basyah (60), pengumpul rotan, Rabu (5/3/2014), seraya menyebutkan cara membawa pulang rotan dengan mengikat bentuk melingkar agar mudah dipikul.

Ironisnya, harga rotan per kilogram yang dibeli agen hanya Rp 8.000 untuk jenis rotan bulan yang sering digunakan untuk pembuatan kursi, meja, tudung saji. Untuk rotan yang telah dibelah menjadi tali pengikat atap rumbia, dijual Rp 2.000 per ikat dengan panjang 1,5 meter.

Kendati dalam 15-20 kilogram rotan kering menghasilkan 200 sampai 250 ikat rotan sebagai tali pembuat atap, namun Ali Basyah dan kawan-kawannya hanya mampu menghasilkan 25-30 ikat rotan seharga Rp 2.000 setiap ikatnya.

Jika dihitung-hitung, per hari ia hanya mampu memperoleh penghasilan Rp30 ribu dari hasil penjualan rotan-rotan kering ke kota kecamatan terdekat.

Mereka berprinsip, daripada tak bekerja, ada baiknya memilih bersabar dan bertahan di tengah sulitnya perekonomian mereka "mengasapi" dapur keluarga.

“Hanya kami yang tua-tua masih melakoni kegiatan ini, anak muda sekarang mana mau lagi,” kata Ali dengan raut letih.

Hanya satu harapannya, harga rotan berangsur membaik sehingga harga jual sepantas dengan modal yang mereka keluarkan saat menjelajahi hutan selama puluhan hari. “Pemasaran masih cukup baik di beberapa kecamatan, tapi selama ini harga jual tetap segitu-gitu aja di tengah harga barang lain yang terus-menerus naik, rasanya tak adil,” lanjut Ali.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perusahaan Konsultan IT Asal AS Bidik Pasar 'Cloud Computing' di RI

Perusahaan Konsultan IT Asal AS Bidik Pasar "Cloud Computing" di RI

Whats New
Dekati UMKM, PT Pos Buka 7.700 'Drop Point' PosAja di 500 Kabupaten dan Kota

Dekati UMKM, PT Pos Buka 7.700 "Drop Point" PosAja di 500 Kabupaten dan Kota

Whats New
Mengapa Adopsi Komputasi Awan Penting untuk Transformasi Digital Perusahaan di Indonesia?

Mengapa Adopsi Komputasi Awan Penting untuk Transformasi Digital Perusahaan di Indonesia?

Whats New
Pemerintah Dinilai Perlu Tolak Intervensi Asing soal Kebijakan Industri Rokok

Pemerintah Dinilai Perlu Tolak Intervensi Asing soal Kebijakan Industri Rokok

Rilis
Genjot Produksi Jagung, Kementan Gandeng Bayer Indonesia

Genjot Produksi Jagung, Kementan Gandeng Bayer Indonesia

Whats New
Pertamina Kembangkan Teknologi Diesel Biohidrokarbon dan Bioavtur

Pertamina Kembangkan Teknologi Diesel Biohidrokarbon dan Bioavtur

Whats New
HUT Ke-77 RI, Menkominfo Sebut Digitalisasi Kunci Pemulihan Ekonomi

HUT Ke-77 RI, Menkominfo Sebut Digitalisasi Kunci Pemulihan Ekonomi

Whats New
Menhub: Gunakan Tema Besar HUT Ke-77 RI agar Sektor Transportasi Pulih Lebih Cepat

Menhub: Gunakan Tema Besar HUT Ke-77 RI agar Sektor Transportasi Pulih Lebih Cepat

Whats New
Cara Daftar m-Banking Mandiri lewat HP dengan Mudah

Cara Daftar m-Banking Mandiri lewat HP dengan Mudah

Whats New
Saat Para Penumpang Pesawat Sikap Sempurna dan Hormat Bendera...

Saat Para Penumpang Pesawat Sikap Sempurna dan Hormat Bendera...

Whats New
Simak Promo dan Diskon HUT Ke-77 RI di Taman Safari, Dufan hingga Trans Snow World

Simak Promo dan Diskon HUT Ke-77 RI di Taman Safari, Dufan hingga Trans Snow World

Whats New
HUT Ke-77 RI, Sandiaga Uno Ajak Pelaku Pariwisata Bangkit

HUT Ke-77 RI, Sandiaga Uno Ajak Pelaku Pariwisata Bangkit

Whats New
Kemendagri: Banyak Kasat Pol PP yang Belum Punya Sertifikat PPNS

Kemendagri: Banyak Kasat Pol PP yang Belum Punya Sertifikat PPNS

Rilis
Luhut Nilai Peringatan HUT Ke-77 RI Sangat Spesial, Ini Alasannya

Luhut Nilai Peringatan HUT Ke-77 RI Sangat Spesial, Ini Alasannya

Whats New
Sandiaga Uno Ajak Investor Brunei Darussalam Tanam Investasi di 5 Destinasi Super Prioritas dan KEK

Sandiaga Uno Ajak Investor Brunei Darussalam Tanam Investasi di 5 Destinasi Super Prioritas dan KEK

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.