Kompas.com - 21/03/2014, 10:02 WIB
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com -
Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak terus berupaya mengakses data-data nasabah perbankan. Meskipun belum ada kesepakatan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, ada bank asing yang meminta persetujuan nasabah mengizinkan bank membagikan data calon debitur ke petugas pajak.

Standard Chartered (Stanchart) Bank Indonesia, misalnya. Dalam dokumen yang KONTAN peroleh, bank asal Inggris tersebut menambah ketentuan tambahan, yakni pasal 19 terkait syarat dan ketentuan umum kredit tanpa agunan (KTA).

Bank yang juga sponsor utama klub sepakbola Liverpool ini meminta persetujuan nasabah untuk mengizinkan bank membagikan data calon debitor ke petugas pajak. "Debitor memberikan izin kepada bank ataupun afiliasinya membagi informasi debitur dengan petugas pajak dalam dan luar negeri," demikian bunyi pasal 19 tersebut.

Ketentuan berlaku efektif per 1 April mendatang. "Debitur dan deposan bebas memilih ingin memberi izin atau tidak. Ketentuan ini hanya berlaku bagi warga Amerika Serikat (AS), karena induk Stanchart di Inggris menyepakati hal itu dengan Pemerintah AS. Tidak ada hubungannya dengan pajak Indonesia," ujar Lanny Hendra, Country Head Consumer Banking Stanchart Indonesia, kepada KONTAN.

Syarat dan ketentuan ini berbeda dengan kebijakan bank lain. Ida Apulia Simatupang, Deputy Cards and Loan Business Head Citibank Indonesia, menyatakan, pihaknya tidak meminta debitur atau deposan membolehkan bank menyerahkan informasi debitur terhadap otoritas pajak. "Termasuk debitur yang merupakan warga negara asing," ujar Ida, Kamis (20/3/2014).

Rahasia deposan

Penelusuran KONTAN, Bank Mandiri dan Bank CIMB Niaga belum mewajibkan kebijakan seperti Stanchart. "Saat ini ada ketentuan penyertaan nomor pokok wajib pajak (NPWP) bagi debitur dengan pinjaman di atas Rp 50 juta. Tapi data disimpan BNI. Tidak pernah diberikan ke pajak," ujar Darmadi Sutanto, Direktur Konsumer dan Ritel Bank BNI.

Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan, data nasabah dipublikasikan ke Ditjen Pajak tetap mengacu pada Undang-Undang Perbankan. "Saya sudah berkonsultasi dengan Direktur Jenderal Pajak A. Fuad Rahmany tentang hal ini tetap mengacu pada UU," ujar Muliaman.

Meski niatan Ditjen Pajak mengakses data nasabah perbankan Indonesia masih menjadi polemik, peraturan yang berlaku telah menyinggung hal tersebut. Mengutip Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank, di situ tertulis: bank wajib merahasiakan informasi nasabah penyimpan alias deposan.

Cuma, hal ini tidak berlaku bagi kepentingan perpajakan, penyelesaian piutang, dan sebagainya. Tapi, "Pemberian informasi deposan harus mendapat izin dari pimpinan Bank Indonesia (BI)," begitu bunyi aturan tersebut. (Adhitya Himawan, Nina Dwiantika, Issa Almawadi, Dessy Rosalina)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Minyak Kita Diluncurkan Hari Ini, Solusi Mendag Atasi Mahalnya Migor

Minyak Kita Diluncurkan Hari Ini, Solusi Mendag Atasi Mahalnya Migor

Whats New
Pemilik Mobil Wajib Daftar MyPertamina sebelum 30 Juli

Pemilik Mobil Wajib Daftar MyPertamina sebelum 30 Juli

Whats New
Rupiah Nyaris Rp 15.000 per Dollar AS, Sri Mulyani Pastikan Ekonomi RI Tetap Terjaga

Rupiah Nyaris Rp 15.000 per Dollar AS, Sri Mulyani Pastikan Ekonomi RI Tetap Terjaga

Whats New
Pemerintah Cabut Predikat Wilayah Bebas Korupsi di 4 Instansi, Apa Saja

Pemerintah Cabut Predikat Wilayah Bebas Korupsi di 4 Instansi, Apa Saja

Whats New
Kode Bank BTN untuk Keperluan Transfer Beda Bank

Kode Bank BTN untuk Keperluan Transfer Beda Bank

Spend Smart
Bank Sinarmas Luncurkan Aplikasi Simobiplus, Apa Saja Keunggulannya?

Bank Sinarmas Luncurkan Aplikasi Simobiplus, Apa Saja Keunggulannya?

Rilis
Blue Bird Akan Tambah 4.000 Armada Lebih di 2022

Blue Bird Akan Tambah 4.000 Armada Lebih di 2022

Whats New
Berencana Ekspansi ke RI, Perusahaan Asal Malaysia Ini  Cari Agen untuk Tawarkan Tabungan Emas

Berencana Ekspansi ke RI, Perusahaan Asal Malaysia Ini Cari Agen untuk Tawarkan Tabungan Emas

Whats New
Kode Bank BCA Syariah dan Bank Lain untuk Transaksi Transfer Antarbank

Kode Bank BCA Syariah dan Bank Lain untuk Transaksi Transfer Antarbank

Spend Smart
Cara Daftar m-Banking BRI, BNI, BCA, dan Mandiri dengan Mudah

Cara Daftar m-Banking BRI, BNI, BCA, dan Mandiri dengan Mudah

Whats New
PT Vale Indonesia Targetkan Produksi Nikel Tumbuh 3 Kali Lipat di 2025

PT Vale Indonesia Targetkan Produksi Nikel Tumbuh 3 Kali Lipat di 2025

Whats New
Laba Bersih BRI Setara 25,5 Persen Total Laba Seluruh BUMN di 2021

Laba Bersih BRI Setara 25,5 Persen Total Laba Seluruh BUMN di 2021

Whats New
Sri Mulyani Pastikan 3 Provinsi Baru di Papua Bakal Punya Anggaran Khusus Pemilu 2024

Sri Mulyani Pastikan 3 Provinsi Baru di Papua Bakal Punya Anggaran Khusus Pemilu 2024

Whats New
Simak 3 Tips Meningkatkan Strategi Marketing Lewat TikTok

Simak 3 Tips Meningkatkan Strategi Marketing Lewat TikTok

Work Smart
Vaksin Bosster Jadi Syarat Perjalanan, Kemenhub: Pokso Vaksinasi Akan Tersedia di Terminal, Bandara dan Pelabuhan

Vaksin Bosster Jadi Syarat Perjalanan, Kemenhub: Pokso Vaksinasi Akan Tersedia di Terminal, Bandara dan Pelabuhan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.