Hati-hati, Jelang Pemilu Rawan Peredaran Uang Palsu

Kompas.com - 28/03/2014, 21:01 WIB
Barang bukti uang palsu yang nyaris sempurna. KOMPAS.com/Achmad Faizal Barang bukti uang palsu yang nyaris sempurna.
EditorBambang Priyo Jatmiko


JAKARTA, KOMPAS.com - Apes betul nasib Nurhayati. Dua bulan berturut-turut, Februari dan Maret 2014, penjual pakaian di sebuah pasar tradisional Depok ini dua kali dagangannya dibayar dengan uang palsu pecahan Rp 100.000. Padahal, sebelumnya, perempuan 30 tahun ini tak pernah mengalami nasib sial semacam itu.

Nurhayati tak paham, apakah kejadian yang menimpanya tersebut ada hubungannya dengan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 atau tidak. Yang jelas, beberapa rekannya sesama pedagang di pasar juga mengalami hal sama, beberapa pekan sebelum pemilu legislatif digelar serentak pada 9 April nanti.

Pesta demokrasi akbar lima tahunan itu memang identik dengan bagi-bagi uang, baik dari partai politik peserta pemilu maupun calon legislatif agar mencoblos mereka di hari pemilihan. Tapi, bagi-bagi uang ini tidak terang-terangan, makanya disebut serangan fajar.

Apakah ada kaitan antara serangan fajar itu dengan peredaran uang palsu? Komisaris Besar Agus Irianto, Kasubdit Kejahatan Mata Uang Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, memastikan, belum ada motif dari pembuat dan pengedar uang abal-abal yang lebih dari sekadar ekonomi. “Motif politik atau subversif belum ada,” tegas perwira menengah ini.

Temuan tersebut berdasarkan hasil interogasi kepolisian terhadap para pelaku pembuatan dan pengedaran uang palsu yang berhasil ditangkap. “Belum ada pengakuan mengenai pesanan pembuatan uang palsu dari partai politik atau calon legislatif,” tambah Agus.

Sementara itu, Lambok Antonius Siahaan, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), mengungkapkan, tidak ada momen-momen tertentu termasuk pemilu yang punya hubungan dengan peredaran uang palsu yang marak. Meski begitu, pemalsuan uang memang dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya aktivitas ekonomi atau transaksi yang memungkinkan pengedaran uang palsu.

Penegasan serupa juga datang dari Irjen Drajat Tirtayasa, Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal). Dia mengatakan, sulit membuktikan korelasi antara peningkatan peredaran uang palsu dengan pemilu. Meski begitu, para pelaku kejahatan ini memang selalu memanfaatkan sebuah momentum. “Momen yang bersifat masif bisa dimanfaatkan, misalnya, kampanye,” ujar Drajat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bisa jadi pemilu dan peningkatan peredaran uang palsu tidak ada berkaitan, meskipun menjelang hari pencoblosan tahun 2014 banyak temuan uang palsu di masyarakat. BI mencatat, sebelum dan saat penyelenggaraan Pemilu 2004 dan 2009, jumlah uang palsu yang beredar memang tak selalu menunjukkan ada lonjakan.

Tengok saja, pada 2003 ditemukan 24.656 lembar uang palsu. Sementara di 2004, jumlah temuan meningkat menjadi 42.498 lembar. Tapi, menjelang Pemilu 2009, temuan uang palsu malah menurun. Jika pada 2008 ditemukan 86.552 lembar uang palsu, di 2009 jumlahnya turun menjadi 79.846 lembar.

Tidak melapor

Cuma, menjelang Pemilu 2014 ini, memang ada tanda-tanda peningkatan peredaran uang palsu. Selama Januari 2013, temuan uang palsu hanya 9.746 lembar. Sepanjang Januari 2014, jumlah uang palsu yang ditemukan 11.720 lembar.

Kecenderungan peningkatan aktivitas peredaran uang palsu menjelang Pemilu 2014 juga terekam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Eri Purnomohadi, Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas), bilang, semakin banyak pemilik SPBU yang mengeluhkan soal rupiah palsu.

Hanya mesti diingat, data resmi soal temuan uang palsu tidak seratus persen tepat. Soalnya, banyak kasus uang palsu yang tidak pernah dilaporkan. Nurhayati, misalnya, enggak pernah melaporkan uang palsu yang didapatnya ke polisi.

Begitu juga dengan Junaidi, juga pedagang pakaian di pasar tersebut. Alih-alih melapor ke pihak yang berwajib, uang palsu pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000 yang dia terima langsung dibuang.

Eri malah langsung memusnahkan uang palsu yang masuk ke pom bensin miliknya. “Dianggap sebagai kerugian perusahaan saja,” ujar pemilik SPBU di Cileungsi (Jawa Barat) dan Serang (Banten), ini.

Walau meningkat sejak awal tahun, kasus peredaran uang palsu di SPBU angkanya masih tergolong kecil. Ambil contoh di SPBU milik PT Pertamina Retail. Setiap hari, rata-rata setiap SPBU melakukan 10.000 transaksi jual-beli bahan bakar minyak (BBM).

Pertamina Retail saat ini memiliki sekitar 100 SPBU atawa company owned company operated (COCO). Artinya, dalam setahun ada sekitar 365 juta transaksi. Sementara, “Kasus uang palsu jumlahnya sangat kecil, mungkin tidak sampai 10 kasus setahun,” kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Retail M. Ivan Asmara.

Ah, menjelang pemilu atau tidak, kita tetap harus waspada terhadap uang palsu. ( Herry Prasetyo, Mimi Silvia, Tedy Gumilar)



Sumber Kontan
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

AS Siapkan Rp 7,2 Triliun untuk Kompensasi Korban Kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines

AS Siapkan Rp 7,2 Triliun untuk Kompensasi Korban Kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines

Whats New
Sebelum Tukar Dollar AS, Cek Kurs Rupiah di 5 Bank Besar

Sebelum Tukar Dollar AS, Cek Kurs Rupiah di 5 Bank Besar

Spend Smart
Anggaran di Kabupaten Habis untuk Administrasi dan Birokrasi

Anggaran di Kabupaten Habis untuk Administrasi dan Birokrasi

Whats New
Turun Rp 2.000, Simak Rincian Harga Emas Batangan Antam Hari Ini

Turun Rp 2.000, Simak Rincian Harga Emas Batangan Antam Hari Ini

Whats New
Nasib Garuda: Utang Urung Dibayar, Bunga Terus Menggunung

Nasib Garuda: Utang Urung Dibayar, Bunga Terus Menggunung

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
TKA Masuk Industri Strategis, Luhut: Enggak Boleh Marah, Ada Alih Teknologi

TKA Masuk Industri Strategis, Luhut: Enggak Boleh Marah, Ada Alih Teknologi

Whats New
Bangun Tech Talent, Indonesia Gandeng Singapura

Bangun Tech Talent, Indonesia Gandeng Singapura

Whats New
Sandiaga Uno: Bali Bakal Jadi Pilot Project Wisata Berbasis Vaksin

Sandiaga Uno: Bali Bakal Jadi Pilot Project Wisata Berbasis Vaksin

Whats New
Tawaran Pinjaman Online Masuk lewat SMS dan WA, Ini Kata OJK

Tawaran Pinjaman Online Masuk lewat SMS dan WA, Ini Kata OJK

Whats New
[POPULER MONEY] Daftar Gaji UMR Tertinggi | Instansi yang Buka Formasi CPNS untuk Lulusan SMA

[POPULER MONEY] Daftar Gaji UMR Tertinggi | Instansi yang Buka Formasi CPNS untuk Lulusan SMA

Whats New
Hindari Burnout, Bumble Izinkan Karyawannya Libur Sepekan Penuh

Hindari Burnout, Bumble Izinkan Karyawannya Libur Sepekan Penuh

Whats New
Tindakan China Makin Keras, Harga Bitcoin Anjlok ke Bawah 30.000 Dollar AS

Tindakan China Makin Keras, Harga Bitcoin Anjlok ke Bawah 30.000 Dollar AS

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Pengalaman Vaksinasi Covid-19 | Hikmah Jalani Isoman 2 Minggu | Mood yang Sering Naik-Turun

[KURASI KOMPASIANA] Pengalaman Vaksinasi Covid-19 | Hikmah Jalani Isoman 2 Minggu | Mood yang Sering Naik-Turun

Rilis
Ini Saham-saham yang Paling Terdampak Jika Ekonomi Kembali Lesu

Ini Saham-saham yang Paling Terdampak Jika Ekonomi Kembali Lesu

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X