Kompas.com - 03/04/2014, 08:07 WIB
Pekerja memasang label di kerangka sepeda merek SCOTT di pabrik sepeda PT Insera Sena di Desa Wadungasih, Bunduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (22/5/2010). Tahun 2009, Insera telah memproduksi 500 ribu unit sepeda dan untuk tahun ini ditargetkan mencapai 600 ribu unit. Sebanyak 65 persen total produksi tersebut adalah sepeda merek SCOTT dan sejumlah merek lainnya yang diekspor untuk memenuhi pasar Eropa. Sedangkan untuk pasar lokal, pabrik ini membuat sepeda dengan merek di antaranya Polygon dan MUSTANG. KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYATPekerja memasang label di kerangka sepeda merek SCOTT di pabrik sepeda PT Insera Sena di Desa Wadungasih, Bunduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (22/5/2010). Tahun 2009, Insera telah memproduksi 500 ribu unit sepeda dan untuk tahun ini ditargetkan mencapai 600 ribu unit. Sebanyak 65 persen total produksi tersebut adalah sepeda merek SCOTT dan sejumlah merek lainnya yang diekspor untuk memenuhi pasar Eropa. Sedangkan untuk pasar lokal, pabrik ini membuat sepeda dengan merek di antaranya Polygon dan MUSTANG.
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS - Pasar domestik dan kekayaan sumber daya alam merupakan modal Indonesia untuk menyejahterakan rakyat. Calon presiden yang akan bertarung dalam pemilihan umum harus memiliki wawasan dan kepercayaan diri yang kuat untuk membela komoditas unggulan di pasar ekspor.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan hal ini di Jakarta, Rabu (2/4/2014). Enny bersama tiga pendiri Indef, Didin S Damanhuri, Muhammad Fadhil Hasan, dan Didiek J Rachbini, hadir dalam peluncuran laporan bertajuk ”Kebijakan Ekonomi 5 Tahun Mendatang: Merebut Momentum, Membalik Keadaan”.

”Pemimpin berbekal hasil riset harus percaya diri dan punya daya tawar membela industri domestik. Jangan langsung kendur membela komoditas unggulan yang diserang aktivis dengan alasan lingkungan dan sebagainya,” kata Enny.

Kebijakan hilirisasi mineral dan batubara merupakan salah satu contoh kebijakan yang tepat. Penciptaan nilai tambah komoditas alam di dalam negeri dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan penerimaan pajak.

Posisi geografis di khatulistiwa membuat Indonesia memiliki keunggulan komparatif di sektor perkebunan dan kehutanan yang berdaya saing tinggi di pasar ekspor. Ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) kini menjadi yang terbesar untuk komoditas nonmigas.

Indonesia mengekspor CPO 21,2 miliar dollar AS (Rp 254,4 triliun) pada tahun 2013. Adapun ekspor karet mencapai Rp 100 triliun dan bubur kertas serta kertas mencapai Rp 20 triliun.

Enny meminta pemimpin tidak latah menyalahkan pengusaha perkebunan dan kehutanan terkait kebakaran lahan di Riau dan daerah lain. Menurut Enny, investor berkepentingan menjaga kelestarian konsesi mereka agar menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan mudah menembus pasar global.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, pemimpin harus punya pola pikir Indonesia wajib memperkuat agroindustri sebagai keunggulan nasional. Menurut Joko, Indonesia jangan terus membangun industri berbahan baku impor dan meninggalkan sektor riil demi mengembangkan sektor jasa yang sulit diekspor.

”Pemimpin harus membela agroindustri. Kita masih menghadapi masalah kemiskinan dan pengangguran yang sebenarnya bisa diatasi,” kata Joko. (ham)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X