Kompas.com - 08/04/2014, 07:34 WIB
EditorErlangga Djumena

Dari Pekanbaru, Riau, dilaporkan, Sriwijaya Air menghentikan beberapa penerbangan dari dan ke Pekanbaru sejak sebulan lalu. ”Kami memang menghentikan penerbangan dari dan ke Pekanbaru dalam rangka restrukturisasi rute, tetapi sifatnya hanya sementara,” ujar Yulisa, District Manager Sriwijaya Air Pekanbaru.

Yulisa tidak memberikan penjelasan tentang tenggat restrukturisasi rute penerbangan Sriwijaya Air. Proses kaji ulang itu sedang dilakukan pihak manajemen. Selama ini, Sriwijaya Air menerbangi rute dari Pekanbaru ke Medan, Batam, dan Jakarta.

Kepala Humas Sriwijaya Air Agus Soejono menyatakan, untuk mengurangi beban yang ditanggung, Sriwijaya Air menutup beberapa rute penerbangan. ”Ada beberapa rute yang ditutup, terutama semua rute yang menuju Pekanbaru. Selain jumlah penumpangnya rendah, di sana juga berulang kali ditutup akibat asap. Lebih baik kami menutup rute itu, lalu memindahkan ke rute lain yang lebih baik,” tutur Agus.

Secara terpisah, Baiquni, Duty Manager Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Pekanbaru, mengungkapkan, berhentinya pengoperasian Sriwijaya Air dari dan ke Pekanbaru memang terkesan mendadak.

Penerbangan dari dan ke Pekanbaru selama ini, menurut Baiquni, memang cukup ketat. Saat ini ada 16 maskapai yang melayani penerbangan dari dan ke Bandara SSK II.

Untuk beberapa rute, Sriwijaya Air harus bersaing dengan Garuda Indonesia, Lion Air, Silk Air, AirAsia Indonesia, dan Mandala. Dahulu, misalnya, rute Pekanbaru-Medan pergi-pulang hanya dilayani dua maskapai, yakni Sriwijaya Air dan Lion Air. Belakangan maskapai AirAsia dan Garuda Indonesia membuka jalur ke Medan sehingga persaingan semakin berat.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) Tengku Burhanuddin, pendapatan maskapai memang telah bertambah dengan adanya biaya tambahan (surcharge). Namun, pemulihan dari efek melemahnya rupiah waktu itu hingga kini masih terasa. Beberapa waktu lalu pemerintah memperbolehkan maskapai menerapkan tambahan biaya Rp 60.000 per jam terbang. Namun, hingga saat ini beban maskapai penerbangan masih terasa berat.

”Ada banyak sebab mengapa saat ini maskapai penerbangan masih merasakan beban yang cukup berat. Nilai rupiah saat ini sudah lebih menguat atas dollar AS, tetapi belum kembali ke bawah Rp 10.000. Harga avtur masih sangat tinggi. Selain itu, sudah jadi kondisi umum, selama Januari-April, penumpang penerbangan pasti menurun,” kata Tengku.

Tengku membantah adanya perang tarif di antara maskapai penerbangan sehingga penerbangan-penerbangan kecil tak kuat menghadapi tarif yang ditetapkan maskapai besar. ”Kalau itu tidak mungkin terjadi saat ini. Mau seberapa murah tarif dapat diterapkan ketika biaya operasional begitu tinggi,” ujarnya.

Menurut Presiden Direktur Citilink M Arif Wibowo, strategi Citilink adalah memaksimalkan perjalanan yang sudah ada tanpa menurunkan harga. Menurut dia, sebenarnya animo masyarakat untuk terbang masih tinggi. (A12/ESA/SAH/ARN/RYO/MAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.