Kompas.com - 15/04/2014, 21:51 WIB
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com -
Hingga saat ini, profesi perencana keuangan ini dinilai berada di wilayah yang abu-abu. Meski belum ada self regulatory organization (SRO) bentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengatur profesi ini, regulator tetap membutuhkan jasa perencana keuangan itu.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S. Soetiono yang akrab disapa Titu menyatakan, profesi perencana keuangan dibutuhkan oleh regulator untuk menjadi juru bicara perihal perencanaan keuangan dan juga investasi bagi masyarakat.

"OJK butuh financial planner untuk bisa menjadi juru bicara untuk mengedukasi masyarakat dan juga pengguna jasa keuangan," ujar Titu di Jakarta, Selasa (15/4/2014).

Menurut Titu, pada dasarnya keberadaan financial planner adalah baik bagi industri keuangan terkait dengan upaya mengedukasi publik dalam mengelola uang. Profesi perencana keuangan, lanjut Titu, hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mengatur keuangan.

Terkait kasus investasi bodong yang menimpa presenter kondang, Ferdi Hasan, menurut Titu, terdapat dua hal yang patut untuk dicermati. Pertama, jika jika perencana keuangan memberikan saran investasi saja namun opsi pemilihan ragam dan tempat berinvestasi sepenuhnya diserahkan kepada nasabah atau investor, maka hal itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab nasabah sendiri.

"Kalau nasabah merasa 'terjebak' padahal itu adalah pilihan nasabah sendiri, maka itu menjadi tanggung jawab nasabah atau investor. Tidak bisa serta merta menyalahkan perencana keuangan," jelas Titu.

Namun, jika perencana keuangan dalam memberikan saran investasinya telah menunjuk suatu perusahaan investasi tertentu dan bahkan memiliki akun untuk menghimpun dan menerima dana nasabah atau investor, maka hal itu menjadi tanggung jawab perencana keuangan tersebut.

"Dan sebetulnya, itu sudah bukan menjadi cakupan tugas kerja dari perencana keuangan. Itu sudah beyond (diluar) dari tugas financial planner bahkan mirip-mirip dengan manajer investasi. Jika seperti itu, maka memerlukan izin dan pemenuhan aturan ketentuan manajer investasi dari OJK," ucap Titu.

Sebelumnya, presenter kondang Ferdi Hasan mengaku apes lantaran berinvestasi di sejumlah produk investasi menambah panjang rekor buruk PT Quantum Magna (QM) Financial sebagai perencana keuangan. (Baca : Kemelut Ferdi Hasan Vs Ligwina Berujung di Polisi)

Perusahaan perencana keuangan milik Ligwina Hananto ini merekomendasikan sejumlah produk kepada Ferdi. Produk investasi yang dimaksud adalah produk milik Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS), Trimas Mulia, Panen Mas, dan bersumber dari trading indeks.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.