Kompas.com - 23/04/2014, 07:14 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

Karena itulah pendidikan anak sebenarnya bukan sekadar telling karena fungsi utamanya adalah membentuk (regulasi diri, fokus, kontrol diri, working memory, dan kemampuan beradaptasi). Dan, untuk itu diperlukan kekuatan observasi.

Kalau guru memiliki kemampuan observasi yang kuat, tak satu pun masalah anak luput dari catatan dan sentuhannya. Guru menjadi orang pertama yang membaca mengapa anak tiba-tiba menjadi amat takut, sakit, memukul teman-temannya, kurang bergairah, cerewet, asyik dengan dirinya sendiri, banyak melamun, dan seterusnya.

Kemampuan mengobservasi ini menjadi modal penting seorang pendidik. Dan, saya percaya sekolah-sekolah internasional punya anggaran yang cukup untuk melatih guru mengobservasi
siswa. Rata-rata seorang guru perlu belajar enam bulan penuh untuk mengasah kemampuan observasi ini dalam bentuk praktik.

Ditutup atau dibina

Menjadi pertanyaan mengapa kejadian yang menimpa M bisa luput dari observasi sekolah? Bukankah sekolahnya internasional dan bereputasi baik? Lantas, apa yang harus dilakukan pemerintah?

Sekolah tentu tak ingin kehilangan reputasi sehingga memilih menutup pintunya seketat kedutaan besar asing yang rawan serangan terorisme. Namun, apa yang harus dilakukan? Bagi saya, kurang tepat Kemendikbud hanya menghukum dengan menutup sekolah karena masalah izin administratif. Kasus ini menyimpan pembelajaran besar pentingnya keterampilan observasi perkembangan anak.

Pada kenyataannya, keterampilan ini belum banyak dimiliki sekolah kita dan orangtua. Sementara prioritas kalangan kelas menengah bukanlah perkembangan anak yang saya sebutkan tadi, melainkan keterampilan berbahasa Inggris, berhitung, dan membaca. Padahal, menemukan keunikan anak dan memberikan lingkungan sehat untuk tumbuh sangat penting guna meraih keunggulan di masa depan.

Maka, ada dua refleksi. Pertama, saatnya pemerintah membentuk keterampilan observasi para guru dan ini harus menjadi syarat perizinan. Kedua, penting bagi orangtua memilih sekolah yang menaruh perhatian pada kualitas observasi tadi. Jika tidak, dari persyaratan administratif dan fasilitas, JIS pasti akan mudah memenuhinya dalam tempo yang cepat. Artinya, sanksi penutupan tak menimbulkan efek perubahan.

Bisakah kita menjamin hal serupa tak terulang dari sekolah yang guru-gurunya tak memiliki kemampuan observasi andal? Itulah pertanyaan dasar yang harus dijawab Kemdikbud dan dari kebijakan seperti itu sebagai pendidik saya harus mengatakan belum. Artinya, belum ada jaminan anak-anak kita telah berada di tangan yang aman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.